Landek Pagar: Memanggil Musim Hujan Di
Sebelum ke Nini Pagar, prosesi dimulai dari Nini Galoh (keramat tumbuhan obat) yang terletak di Desa Kuala. Gendang selok (musik kesurupan) ditabuh. Hadirin semuanya turut menari bersama. Beberapa diantaranya kemudian kerasukan. Matanya berbinar merah, menari, melompat, dan berlari. Terlihat garang. Sesajen yang diletakkan di atas altar.[/caption] Lalu, sang dukun bertanya apa maunya dan apa upahnya untuk keluar dari tubuh si penari. Gendang terus ditabuh bertalu-talu. Dari tempat keramat Nini Galuh beranjak ke tempat keramat Nini Pagar sambil menari. Di tempat Nini Pagar, ritual kembali dilaksanakan. Guru mbelin (Dukun Besar) akan kemasukan Nini Pagar dan memberi wejangan kepada hadirin. Pemasangan bendera putih (panji ) dalam bahasa Karo), dan altar persembahan dimulai oleh anak beru sebayang. Diletakkanlah rokok, kelobot jagung, sirih, pisang emas, kelapa muda, cimpa , gula merah, dsb. di atas altar. Setelah itu ersudip (berharap/ memohon) di depan altar menghadap ke Deleng Sibuaten dengan mengangkat tangan mengepit daun sirih berisi kapas diolesi baja (minyak kayu).
Ersudip dimulai dari sembuyak , senina , kalimbubu dan anak beru . //
Setelah itu baru sang dukun menaruh daun sirih ke dalam wadah yang berisi air sambil berdialog dengan Nini Keramat sembari mengamati daun sirih yang di atas air (ramalan). Keramat Nini Pagar dan altar yang diarahkan ke Gunung Sibuaten. gunung tertinggi di Sumatera Utara, terletak di Dataran Tinggi Karo.[/caption]
Siram menyiram berlanjut sampai hujan turun atau selama empat hari berturut-turut.