Longgena Ginting Tentang Permasalahan Utama Lingkungan Hidup Di — Sorasirulo
Sorasirulo

Longgena Ginting Tentang Permasalahan Utama Lingkungan Hidup Di

Budaya ·
Longgena Ginting (ke 2 dari kanan) saat di Belanda bergabung dengan Tartar Bintang pimpinan Juara R. Ginting (paling kanan sedang meniup surdam ). Foto ini adalah menjelang pertunjukan mereka untuk pembukaan Pameran Sumatra di Museum Etnologi Leiden (Belanda) yang dibuka oleh Dirjen Kepurbakalaan dari Indonesia.[/caption] Pengantar Redaksi[/one_fourth] Pimred SORA SIRULO, Ita Apulina Tarigan[/caption] Terpilihnya Dana Prima Tarigan sebagai Eksekutif Daerah WALHI Sumatera Utara disambut gembira oleh Redaksi Sora Sirulo. Apalagi, beberapa orang Karo sudah menunjukkan kemampuan mereka dalam organisasi lingkungan ini, baik di tingkat daerah maupun nasional. Misalnya seperti Longgena Ginting yang sekarang menjabat sebagai Direktur Greenpeace Indonesia, Abetnego Tarigan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Indonesia pada Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup XI tahun 2012 yang sekarang menjadi salah seorang eksekutif staf Presiden Jokowi.

Segera setelah terpilihnya Dana Tarigan, dalam wawancara dengan Sora Sirulo dia mengatakan: “Salah satu fokus Walhi Sumut ke depan adalah penanganan bencana Sinabung, terutama terkait soal lokasi relokasi pengungsi. Kita akan memberikan masukan agar relokasi pengungsi segera terwujud tanpa menghancurkan hutan Karo, agar tidak ada bencana ekologi baru”.

Direktur Greenpeace Indonesia Longgena Ginting, turut bergembira atas kepengurusan WALHI Sumut yang terpilih ini. Untuk itu beliau mengapresiasi dengan memberikan pandangan permasalahan utama lingkungan hidup di Sumut, yang bisa menjadi masukan kepada kepengurusan yang baru dan juga pandangannya terhadap Dana Tarigan sebagai Eksekutif Daerah WALHI Sumatera Utara.

Berikut pandangan Longgena Ginting yang dikirimnya ke redaksi. Salah satu bukti perambahan hutan lindung di Kabupaten Karo. Foto: B. KURNIA PP.[/caption] Seperti di banyak tempat di Indonesia, masalah lingkungan hidup di Sumut tidak terlepas dari masalah sosial, seperti masalah lingkungan dan pertanahan terkait dengan sektor perkebunan monokultur dan kehutanan, pencemaran air, udara atau pedesaan oleh industri termasuk industri peternakan skala besar (termasuk Danau Toba). Kelangkaan air di banyak tempat di Sumut juga mulai terasa. Begitu juga dengan menyusutnya kawasan hutan akibat ekspansi perkebunan, pertambangan dan berbagai aktivitas pembangunan lain. Model pembangunan ekstraktif menyebabkan degradasi lingkungan hidup yang meluas. Kondisi demikian ditambah dengan situasi eksternal seperti perubahan iklim dapat membuat perbaikan kualitas lingkungan di Sumut sangatlah berat. Dengan tingkat kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini, bisa jadi Sumut adalah salah satu provinsi dengan tantangan kerusakan lingkungan yang paling berat. Apa yang bisa dilakukan?[/one_fourth]

Tidak lain adalah memasukkan prinsip keberlanjutan dalam semua kebijakan pembangunan di Sumut. Keberlanjutan (sustainablity) harus menjadi roh dan cita-cita pembangunan di Sumut. Di sinilah peran yang bisa dimainkan WALHI Sumut sebagai sebuah gerakan lingkungan hidup yang bisa membawa suara dan menjadi inspirasi untuk menghentikan kerusakan sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan di Sumut.

Dana Tarigan adalah pilihan tepat untuk WALHI Sumut. Dia tumbuh dan berkembang di lingkungan WALHI dan sudah mengenal asam garam organisasi. Dia dikenal baik oleh jaringan WALHI secara internal dan dikenal luas oleh jaringan atau institusi di luar WALHI.

Ketenangan dan kejernihannnya melihat masalah adalah ciri kepemimpinannya yang dapat membantu dia membawa WALHI menjadi rumah gerakan lingkungan di Sumatera Utara. Ini adalah saatnya untuk Dana untuk menunjukkan kepemimpinan WALHI sebagai motor gerakan lingkungan yang saat ini sangat dibutuhkan di Sumut. Dia harus berani keluar menjadi seorang pemimpin karena dia sekarang adalah pemimpin WALHI Sumut.