Nageri Suah, Membenahi Desa Dari Wisata Dua
//
Gerimis tidak menghentikan niat Tim KTC (Karo Trekker Community) menuju destinasi wisata di Karo Hilir Hilir atau disebut juga Karo Dusun ini (Sabtu 7/2]. Akhirnya, setelah hujan reda, tim berangkat sekitar Pukul 10.00 wib dari Medan dengan mengendarai beberapa sepeda motor. Jalanan begitu padat karena sedang berlangsung libur panjang Akhir Pekan dan Imlek. Pukul 11.30, tim terlebih dahulu memutuskan makan siang di Bandar Baru. Usai makan siang, tim melanjutkan perjalanan dan berhenti sejenak di daerah persawahan Suka Maju. Sawah teras sering begitu menarik untuk dijadikan sebagai tempat hunting foto dengan latar belakang pegunungannya yang masih terjaga baik. Hanya saja, kondisi sawah belum ditanami padi pada bulan Pebruari. Hanya terdapat 2 orang warga sedang mengerjakan sawah mereka.
Dalam perjalanan, kami juga beriringan dengan pengunjung lainnya yang juga mengendarai sepeda motor.
Kondisi jalan yang sempit mulai dari Bandar Baru mengharuskan setiap pengendara berhati-hati. Belum lagi terdapat titik-titik yang rusak berat dan longsoran. Kondisi jalan dari Bandar Baru sampai Sikeben terbuat dari cone block sehingga cukup nyaman. Sedangkan dari Sikeben ke Lau Seruai memang jalan aspal. Hanya saja, terdapat titik-titik kerusakan terutama di daerah turunan menuju Sungai Lau Seruai. Lewat dari Lau Seruai, jalanan yang terbuat dari cor beton kondisinya rusak dan berakhir sampai di Simpang Penen. Setelah dari Simpang Penen, maka jalanan masih berupa pengerasan batu dan sedang dikerjakan pengecoran jalan. Bukan ke Nageri ini saja jalanan seperti ini kondisinya, hampir semua desa yang pernah dikunjungi KTC di Karo Dusun ini seperti anak tiri perlakuan pemerintah daerahnya terutama bidang infrastruktur jalan. Dari sejarah kita dapat melihat bahwa posisi anak tiri ini telah berlangsung sejak wilayah Kewedanaan Karo Jahe dari Kabupaten Karo ini dialihkan menjadi bagian wilayah Kabupaten Deliserdang pada tahun 1950an. Tidak seperti destinasi wisata lainnya di Deli Serdang yang didominasi pemandangan sawit, pemandangan alam menuju Sungai Dua Rasa masih heterogen. Mulai dari persawahan, susunan bebatuan raksasa dan pegunungan. Bahkan sungai tersebut dikelilingi oleh persawahan. Pemandangan desa yang dihuni tidak lebih dari belasan rumah itu juga masih alami juga. Semua terbuat dari papan dan memiliki palas atau teruh karang.