Pentingnya Pendidikan Usia Dini (penekanan Pada Pembangunan
Ketika saya duduk di kelas satu, saya diajari berhitung, menggambar dan banyak lagi. Pengalaman ini menimbulkan niat saya yang sangat kuat untuk kelak kalau dewasa akan menjadi sarjana. Ketika kembali ke Desa Doulu (saya dilahirkan di desa ini walaupun kakek saya berasal dari Jumaraja di Kecamatan Merdeka). Saya mulai mengajar anak-anak desa. Pengalaman mengajar ini membuat saya lebih mengerti tentang suasana kehidupan di desa. Kehidupan masyarakat sudah jauh lebih buruk daripada keadaan desa pada tahun 1970an. Anak-anak dibiarkan mandiri karena orangtua sudah tidak mempunyai waktu untuk mereka. Tanah sudah tidak subur dan upah buruh tani sangat tidak mencukupi. Untuk laki-laki upahnya Rp 70 ribu per hari (bekerja dari Pkl 08.00 pagi sampai Pkl. 17.00 sore).
Ketika itu banyak buku-buku sumbangan pemerintah yang tak dipakai di kantor kepala desa. Saya bagi kepada anak anak untuk dibaca di rumah dan akan dipresentasikan pada pertemuan berikutnya. Ternyata masih banyak juga anak-anak yang sudah duduk di kelas 3 tidak bisa membaca. Anak-anak banyak belajar dalam kegiatan ini. LIFE SKILL yang saya ajarkan dalam membaca ini adalah “BEING RESOURCEFUL”. Pendekatan pembelajaran yang saya pakai adalah SCL dengan ‘COOPERATIVE LEARNING’. Anak-anak semua bahagia dalam belajar. Saya terus menerus berkomunikasi dengan Kepala Desa Doulu, Bapak Amos Ginting. Melihat anthusiasme anak-anak, kami membuat usulan ke Pabrik Aqua untuk membangun sebuah ruangan untuk membuka PAUD di desa ini ditambah dengan Club belajar bahasa Inggris pada hari Sabtu dan hari Minggu.