Ratusan Petani Jagung Di Karo Barat Gagal
Menurut salah seorang dari Perkumpulan Mahasiswa Singalor Lau (Septian Sebayang), jagung yang siap panen itu tidak dipanen oleh petani karena tidak ada buahnya akibat terkena kemarau. Buahnnya hanya berupa tongkol. Tinggi batangnya hanya 50 cm serta tidak merata satu sama lainnya.
"Ini semua akibat kemarau panjang. Cuaca menjadi kendala petani. Usai bibit jagung ditanami, hujan pun tidak pernah lagi turun turun. Maka rusaklah pertumbuhan jagung itu dan tidak dapat lagi diberi pupuk,” jelasnya.
Ratusan hektar areal jagung di Kecamatan Tigabinanga gagal panen dan entah berapa ratus lagi di Kecamatan Munthe dan Kecamatan Lau Baleng sekitarnya juga gagal panen.
Menurut Septian Sebayang lagi, gagal panen jagung seperti ini telah berulangkali dialami petani. Kesemuanya akibat musim kemarau. Dijelaskan oleh Septian yang mahasiswa Fakuktas Tehnik USU ini, air sanggat perlu bagi petani pada musim kemarau. Tapi, pemerintah tidak kunjung juga memberikan solusi, sementara fenomena gagal panen telah berkali-kali terjadi. "Pemerintah saya lihat sepertinya telah lupa dengan petani. Harusnya dibuatkan areal irigasi dan sumur bor. Padahal, sejak jaman kakek kami dulu semua areal pertanian di Tigabinangga dan Munte ada irigasinya. Ini kok semakin maju zaman, irigasi malahan hilang dan tidak kunjung dibuat,” katanya.