Ritual Suci Diri (erpangir) Di Kaki
Acara bertajuk pagelaran seni dan budaya Karo Erpangir ku Lau 2016 yang diselenggarakan bersama oleh Karo Trekker Community (KTC), Gerakan Kemajuan (GK) Center Karo, dan IMKA AMIK MBP telah berlangsung dengan meriah dan sukses kemarin siang shingga sore di mata air panas Lau Sidebuk-debuk, Doulu (Kecamatan Merdeka, Dataran Tinggi Karo).
Acara yang dimulai Pukul 09.00 Wib ini, diawali dengan Kata-kata Sambutan yang disampaikan oleh Ketua Panitia, perwakilan Rakoetta Brahmana Center (RBC), perwakilan DisBudPar Karo, anggota DPRD Kabupaen Karo, tokoh Budaya, DPRD Sumut, dosen IMKA Amik MBP, dan pemerintahan desa setempat. Mereka semua sangat berharap acara ini dapat terus berjalan setiap tahun. Ritual sudah dimulai[/caption] "Kami dari Disbudpar Karo akan berusaha semampu kami agar acara erpangir ku lau ini bisa masuk menjadi acara tahunan yang resmi di lingkungan kalak Karo. Mudah mudahan DPRD Karo dan pihak terkait dapat menganggarkan APBD untuk acara ini," kata perwakilan Disbudpar Karo dalam sambutannya.
Setelah kata sambutan dari berbagai pihak, acara dilanjutkan dengan memulai musik dan ritual Gendang Mbuang, Gendang Puanglima, Gendang Guru dan Gendang pasu-pasu. Semua rangkaian ritual acara dipimpin oleh Guru Mbelin beru Kemit dari Medan beserta guru simeteh wari 30 , pande , dan guru kuta yang kesemuanya sekitar 40 orang (guru = dukun Karo). Keramat-keramat alam sekitar dan nenek moyang sudah mulai memasuki tubuh beberap guru (shaman). Terlihat ramuan bahan penyuci diri dan persembahan ayam putih di tepi mata air panas.[/caption]
Untuk latar belakang historis ritual ini sehingga sering dilksanakan di tempat ini bisa dibaca tulisan Juara R. Ginting yang berjudul Hinduism in Karo Society (2004) di dalam Modern Hinduism in Indonesia, diedit oleh Martin Ramstedt.