Sirulo Tv: Leiden, Kota Tua Penuh
Di hall kami bertemu dengan Dr. Clara Brakel, pakar tari Jawa yang baru saja menyelesaikan bukunya mengenai Suku Pakpak. Suasana langsung hangat setelah diterpa angin keras dingin di luar. Secangkir cappuccino dan kukis jadi lebih enak menemani perbincangan di kantin mahasiswa yan ramai. Pieterskerk[/caption] Clara memberikan buku yang ditulisnya tentang Story Telling Masyarakat Pakpak dan CD yang memuat cerita-cerita Pakpak dari penutur Pakpak. Informasi dari Clara akhirnya menjawab keheranan saya tentang gedung KITLV yang tidak terawat. Kata Clara, seluruh koleksi KITLV kini di bawah naungan UB (Perpustakaan Umum), sehingga perawatan dan penempatannya ditentukan oleh UB.
Keluar masuk gang kecil, universitas ini ternyata berbaur dengan rumah-rumah penduduk. Gedung yang mereka pakai adalah bangunan-bangunan tua yang sudah ada sejak Abad 10. Demikian juga rumah-rumah penduduk sekitarnya. Menyusuri gang ada banyak sekali pamflet yang berisi bermacam-macam gerakan mahasiswa. Ada Pendukung Kemerdekaan Tibet, Penentang Privatisasi Air dan isu-isu lainnya terkait dengan kemanusiaan dan lingkungan. Sebuah gang di engah Kota Leiden, dekat toko buku-buku antik.[/caption] Kami terus berjalan keluar masuk gang. Jalan berbatu dengan angin kencang, tetapi lumayan ada sinar matahari. Kami sampai di sebuah gedung besar di depan Broodjes Café. Iseng saya baca informasinya. Ternyata gedung besar megah ini aslinya adalah penjara sejak Abad 12. Di masa itu eksekusi narapidana dilakukan di halaman penjara. Di seberang penjara, ada sebuah gedung bekas sekolah Latin, dimana dulu Rembrandt pertama sekali mendapatkan pelajaran menulis dan melukis di tahun 1616-1620. Di dinding luar Broodjes Café kami menemukan sebuah puisi berbahasa Arab dan dibuat terjemahannya berbahasa Inggris. Di situ ada keterangan bahwa puisi ini dibuat untuk memperingati 400 tahun Bahasa dan Budaya Arab telah dipelajari di Leiden Universiteit.
Perjalanan menyusuri Leiden masih panjang, akan disambung di lain waktu. Sebuah puisi penyemangat buat siapa saja yang ingin berkelana, berikut saya salinkan puisi berbahasa Arab dengan terjemahan berbahasa Inggris: Travel Safely! “Where are you going, in such a hurry?” Puisi di dinding sebuah cafe mahasiswa (juga untuk wisatawan) di pusat Kota Leiden[/caption] The desert-thorn asked the wind. “My heart’s is tormented here- don’t you want to get away From this dusty desert?” “It’s all I long for, but what can I do, with my feet tied like this….” “Where are you going in such a hurry?” Wherever it may be, except here, where I am.” “Travel safely the! But my friend, I beg you, When you have passed safely from this brutal wasteland, And reach blossoms, and the rain, Greet them for me.” (M.R. Shafi’i – Kadkani)