Cerbung: Suamiku Patric Jadi
********* Hari itu matahari terik sekali melebihi hari-hari biasanya, seolah-olah matahari ingin menghukum Kota Medan dengan teriknya yang membakar. Dengan langkah terseret-seret kupaksa kakiku membawa badan menuju Toko Gramedia Gajah Mada. Kalaulah aku kemarin malam tidak berjanji dengan bapa dan nande akan menyeselaikan kuliahku, aku tidak akan menginjakkan kakiku di sini. Tahun ini adalah tahun terakhir, atau aku harus drop out dari kampus dan menghianati orangtuaku. Aku tidak ingin itu terjadi. “Excuse me, boleh saya duduk di sini?” tanya seorang laki-laki berambut pirang dan bermata biru, ketika aku baru saja meneguk es alpukat pesananku di cafe toko buku ini. “Silakan,” jawabku sambil melirik sekejap ke wajahnya yang sedang berdiri di depanku dan melanjutkan bacaanku. “Kenalkan, saya Patric Scholten,” ucapnya sambil mengulurkan tangan. “Ya, hai saya Sri Ulina,” kataku sambil menyambut uluran tangannya. “Orang Batak biasanya punya marga,” lanjutnya. “Benar, tetapi saya bukan Batak walau saya punya merga. Mergaku adalah Brahmana," jawabku datar “Apa itu?” tanya Patric lebih lanjut. Sejenak aku diam, karena nggak punya m ood untuk kasi kuliah gratisan. “Brahmana adalah salah satu clan yang kumpulannya adalah Sembiring, dan Sembiring adalah satu dari 5 kumpulan clan di Suku Karo. Kalau mau lebih tahu tentang Karo, tinggallah di Medan ini lebih lama dan bangunlah komunitas dengan Karo,” jawabku seadanya. “Ya tentu saja, dan saya yakin kamu rela memberiku alamat rumahmu, dan menjadi temanku,“ balasnya dengan penuh antusias sambil tertawa. “Cilaka dua belas,” jawabku sambil tertawa juga kesal. Aku terjebak. (Bersambung) (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-2770968303719106", enable_page_level_ads: true });