Kolom Andi Safiah: Ahok Dan Dinamika — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Andi Safiah: Ahok Dan Dinamika

Kolom Andi Safiah: Ahok Dan Dinamika

Terlepas dari pro dan kontra terhadap Ahok, secara pribadi saya melihat bahwa ada yang "ABSEN" dalam dinamika publik pasca di tetapkannya Ahok sebagai tersangka penistaan agama dan harus menetap di penjara selama 2 tahun.

Menyebut nama Ahok dalam ruang-ruang publik seperti medsos saja bisa melahirkan begitu beragam perspective, dari yang bangga hingga yang mau muntah berkumpul jadi satu, mereka menciptakan berbagai forum, group baik di WA, hingga di gro up-group arisan-semua membicarakan sepak terjang Ahok yang membanggakan sekaligus menjengkelkan.

Begitulah karakter publik Indonesia, menarik, asik, menyenangkan hingga pada level menjengkelan. Apakah semua itu bermasalah? Bagi saya pribadi, justru itulah esensi dari keterbukaan di mana siapapun dia bebas untuk melampiaskan ekspresinya secara terbuka. Bebas tapi ingat tetap harus bertanggungjawab.

Kembali ke Ahok, sejak kepindahan dia dari kantor gubernuran ke rumah barunya di Mako Brimob, suara Ahok tidak begitu terdengar lantang seperti biasanya. Banyak spekulasi soal ini, tapi bagi saya absennya Ahok dalam ruang publik justru merugikan publik itu sendiri, terutama warga Jakarta dan Indonesia secara menyeluruh; pasalnya Ahok sering secara alamiah membongkar kebusukan-kebusukan yang selama ini tidak pernah diakses oleh publik.

Satu contoh sederhana, ketika rapat-rapat yang tadinya tertutup dibuat publik olehnya. Bukan untuk sebuah pencitraan, tapi memang begitulah seharusnya. Seorang pejabat publik harus memahami prinsip akuntabilitas dan Ahok mencoba melakukan itu. Pada awalnya publik gagap, namum lama kelamaan publik menjadi paham, bahwa tugas pejabat publik adalah membuka ruang informasi yang seluas-luasnya kepada publik atas aktivitas pejabat publik. Prinsip melayani-bukan mau dilayani adalah spirit dari pemerintahan yang akuntable dan di era Ahok itu coba dilakukan.

Pada konteks ini saja, Ahok sukses membuka ruang diealektika publik yang akhirnya melahirkan dinamika pro dan kontra dalam kesadaran publik. Bagi mereka yang pro tentu saja kebijakan Ahok sangat berguna karena mereka bisa menyaksikan langsung bagaimana proses pengambilan keputusan, tapi bagi mereka yang kontra tentu saja tidak demikian.

Ahok terlepas dari apapun saya sendiri menilai bahwa bangsa ini memang perlu lebih waras dan lebih selektif dalam membungkam rakyatnya, kasus Ahok telah mendidik bangsa ini bahwa yang waras dan berguna bagi bangsa ini selalu menjadi korban dari masyarakat yang nalarnya masih aktif separuh, belum benar-benar aktif secara efisien; sehingga proses pengambilan keputusan terutama di pengadilan menjadi bias akibat 'nalar separuh' dari para hakim yang masih terjebak pada conflict of interest secara personal.

Itulah Ahok dan masih banyak lagi manusia macam Ahok yang berkeliaran di dunia maya yang juga dijerat oleh UU yang sama sekali tidak memenuhi unsur UU karena memang pijakannya ABSURD seAbsurd sumbernya.

# Itusaja ! FOTO HEADER: Sepasang penari berbusana Suku Karo (Sumatera Utara) (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-2770968303719106", enable_page_level_ads: true });