Kolom Andi Safiah: Waras — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Andi Safiah: Waras

Berita terkini ·

ILC itu saya singkat dengan "Indonesian LIAR Club", dimana kebohongan disampaikan secara terbuka, sementara kebenaran sederhana "dibully" karena alasan-alasan religioso yang menipu. Lihat saja perdebatan antara kewarasan yang diwakili oleh wanita hebat seperti Cania dan ketidakwarasan oleh seorang yang berkopiah hitam tapi argumennya penuh Fallacy.

Salah satu Fallacy yang ditampilkan adalah bahwa Indonesia adalah negara yang bertuhan. Ini adalah argumen Fallacy yang super s alto. Indonesia itu adalah organisasi besar dan di mana-mana yang cocok disebut atau dicap bertuhan adalah manusia yang ada dalam sebuah organisasi, bukan organisasinya.

Karni Ilyas sebagai "provokator" ulung juga nampaknya terlihat bingung ketika bicara tuhan dan ketuhanan. Dia tampaknya tidak paham, bahwa tuhan hanyalah konsep semacam "tatanan moral yang diimaginasikan oleh sebuah masyarakat" dan Tuhan jelas sekali tidak mengenal yang namanya Agama.

Lihat saja Tuhannya orang Islam berbeda dengan Tuhannya orang Kristen, atau Hindu, atau Konghuchu, atau Tuhannya orang Yunani kuno. Jika bangsa ini dicap sebagai bangsa bertuhan hanya karena ada pasal dalam Pancasila yang menyebutkan "ketuhanan" maka ini akan menjadi malapetaka selamanya di republik ini.

Karena interpretasi yang beredar dalam masyarakat Indonesia adalah interpretasi yang bias (menyimpang) dan penuh dengan agenda politis.

Kita ingin menegaskan hanya orang-orang yang bertuhan yang punya hak hidup di republik ini, padahal soal kepercayaan pada Tuhan atau ketidakpercayaan pada Tuhan menjadi hak asasi setiap manusia yang hidup di dalam negara demokrasi.

Dan, jika negara ini terjebak dalam urusan Tuhan, maka tidak heran jika urusan manusia yang menjadi dasar berdirinya negara ini akan terbengkalai sampai kapanpun juga.

ILC adalah contoh forum yang sukses menjungkirbalikkan akal sehat manusia Indonesia, lewat propaganda-propaganda fallacy dalam setiap tayangannya.

Mereka menempatkan kepentingan Tuhan di atas kepentingan manusia, sehingga manusia Indonesia adalah korban langsung dari kebijakan-kebijakan negara yang tidak berpijak di atas akal dan kewarasan manusia.

Yang waras dibuang dan yang idiot dipelihara hanya karena suaranya lebih lantang. Di sinilah kebenaran filsafat 'tong kosong nyaring bunyinya'.

# Itusaja ! (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-2770968303719106", enable_page_level_ads: true });