Kolom Asaaro Lahagu: Ahok Gagal Dikubur, Anies Tuding Djarot,
Agar lebih menggigit dan mengerikan, dibuatlah spanduk-spanduk yang dipasang di banyak Masjid di Jakarta. Bunyinya: “Masjid ini tidak mensholatkan jenazah pendukung Ahok”. Tujuannya adalah agar orang-orang Muslim pendukung Ahok takut dan akhirnya tidak memilih Ahok dan berbalik memilih Anies-Sandi. Strategi ini sangat menohok dan telak. Ini sama saja mengubur Ahok hidup-hidup. Jika semua pemilih kaum Muslim tidak memilih Ahok, maka bisa dipastikan Ahok akan kalah telak. Lalu apakah strategi itu berhasil? Ternyata gagal.
Orang Muslim yang masih waras ternyata langsung bergerak. GP Ansor NU, Pemrov DKI Jakarta, Kementerian agama langsung berteriak. Siapapun yang meninggal setiap masjid wajib mensholatkan jenazah. Seluruh kampung berdosa jika tidak mensholatkan jenazah itu. Begitulah pernyataan keras Menteri agama. GP Ansor NU menjadi barisan terdepan yang siap 24 jam mensholatkan jenazah yang ditelantarkan.
Pemrov DKI Jakarta tak tinggal diam. Seluruh spanduk provokatif dan menyebarkan isu SARA langsung diturunkan. Sementara itu aparat kepolisian pun turun tangan. Polisi mengancam bahwa siapapun yang menyebar spanduk-spanduk provokatif itu akan dipidanakan. Kini polisi tengah menyelidiki aktor di balik spanduk-spanduk provokatif itu. Strategi serang Ahok lewat jenazah pun kini gagal total. Publik menjadi muntah dan muak melihat kampanye hitam seperti itu. Akibatnya spanduk itu menjadi blunder yang merugikan pasangan Anies-Sandi.
Pasangan Anies-Sandi jelas kini kelabakan. Apalagi senjata yang tersisa untuk menjegal Ahok? Ahok yang diserang lewat politik mayat itu, malah mengubahnya menjadi keuntungan. Ahok dengan kampanye senyapnya tiba-tiba mengunjungi keluarga Nenek Hindun, yang menjadi korban politik mayat itu. Ahok pun berfoto ria dengan mereka dan gegerlah sosial media. Rasa simpati publik pun mengalir kepada Ahok dan keluarga Nenek Hindun.
Melihat strategi politik mayat gagal, Anies mencari celah lain untuk menyerang Ahok-Djarot. Ketika Djarot yang diundang saat haul Soeharto, dihadang oleh pendukungnya, Anies bukannya meminta maaf. Malah Anies ikut memanasi situasi. Anies menuding Djarot telah melecehkan rakyat. Jika pemimpin melecehkan rakyat, maka rakyat pun akan melecehkan pemimpinnya. Anies menambahkan bahwa penghadangan Djarot itu adalah efek dari kriminalisasi kepada para kaum ulama.
Lalu apa pesan dari tudingan Anies itu? Ternyata kedok Anies terbongkar. Anies ternyata setuju penghadangan terhadap Djarot. Itu berarti juga Anies selama ini juga setuju kepada setiap penghadangan kampanye Ahok-Djarot. Jika Anies setuju terhadap penghadangan kampanye Ahok-Djarot, maka Anies sama saja telah melecehkan demokrasi di negeri ini. Anies telah melecehkan nalar untuk bertarung secara fair. Ternyata santun, bersih dan jujur hanyalah kedok alias tameng.
Jika Anies menuding dan melecehkan nalar, Sandiaga tidak jauh berbeda. Kini Sandi terlihat gencar memfitnah Ahok. Ketika Ahok walk-out dari rapat pleno KPUD Jakarta karena jam karet, Sandi memfitnah Ahok sudah janjian dengan investor yang akan menanamkan puluhan triliun rupiah untuk pembangunan Jakarta.