Kolom Asaaro Lahagu: Ahok Vs Anies Beda Kelas, Isu
Ahok itu bukan lawan yang sepadan untuk Anies. Keduanya kontras atau berbeda jauh baik itu dari segi kualitas, kapasitas, kapabilitas ataupun rekam jejak. Ahok itu orangnya praktis, orientasi kerja dan punya target nyata. Sementara Anies, orangnya teoritis, santai dan berorientasi seni dan abstrak.
Dari bukti-bukti track record , kemampuan manajerial dan etos kerja, Ahok jauh lebih unggul dari Anies. Perbedaan itu sangat tidak seimbang, berat sebelah. Keunggulan Ahok jauh lebih tinggi, dan keunggulan Anies jauh lebih rendah. Mari kita lihat beberapa contoh terobosan mereka saat menjadi pejabat.
Saat mulai menjadi gubernur, Ahok langsung merevolusi mental birokrat DKI. Mereka yang bagus diangkat jadi lurah, camat atau kepala dinas. Mereka yang malas, korup, pungli, langsung dipecat. Semua pejabat harus kerja keras melayani masyarakat. Sementara Anies, tak ada terobosan di Kementerian Pendidikan. Malahan Anies memprovokasi orangtua untuk bolos kerja satu hari, agar bisa mengantar anaknya pada hari pertama sekolah.
Dari segi pengelolaan anggaran, Ahok sudah menerapkan e-budgeting dan bertarung habis-habisan dengan DPRD DKI menyelamatkan uang APBD DKI. Sementara Kementerian yang dipimpin Anies, terjadi salah hitung anggaran sebesar Rp 23,3 Triliun secara masif dan terstruktur. Jika Ahok pintar mencari duit lewat CSR (corporate social responsibility) dari berbagai perusahaan, Anies sebaliknya. Ia hanya paham cara menghabiskan anggaran pameran buku di Jerman Rp 146 Miliar pada tahun 2015 lalu.
Dari program dan visi membangun Jakarta ke depan, terlihat ada perbedaan menyolok antara Ahok dan Anies. Ahok akan terus memperlebar, mengeruk dan menata sungai untuk mengatasi banjir. Ahok tak segan merelokasi penghuni rumah di bantaran sungai ke rumah susun. Sementara Anies tidak mengenal relokasi. Anies berjanji tak ada penggusuran dan akan melukis rumah-rumah di bantaran sungai agar lebih berseni. Sementara manusia di bantaran sungai, akan dimanusiakan dengan cara pemberdayaan atau istilah kerennya training .
Jika Ahok menggenjot etos kerja pejabat dengan reward dan punishment, Anies sebaliknya. Anies lebih pada metode pendekatan hati ke hati. Anies lebih mengutamakan musyawarah, mengajak warga bicara dan membangun terus kesadaran warga. Untuk merespon cepat masalah warga, Ahok dengan jitu mengatasinya dengan membentuk berbagai pasukan.
Sementara itu Anies tinggal fotocopy ide jitu itu dengan menambahkan plusnya. Jadi pada program Anies ada yang namanya pasukan orange plus, pasukan biru plus, kuning plus, merah plus, hijau plus dan lain-lain. Demikian juga soal kartu. Anies tinggal menambahkan plus di belakangnya. Jadi kelak ada KJP plus, KJS plus dan seterusnya.