Kolom Asaaro Lahagu: Analisis Daya Magis Ahok Menjelang 15
Pada Pilkada DKI 2012, daya magis Jokowi saat itu benar-benar menyihir warga Jakarta. Berkat daya magisnya, Jokowi sukses memenangi pertarungan melawan Fauzi Bowo. Nah, apakah sekarang, Ahok penerus Jokowi punya daya magis?
Fakta membuktikan bahwa sejak Reformasi 1998, mereka yang mempunyai daya magis bisa memenangi kursi DKI-1 dan RI-1. Dari catatan sejarah, sejak Reformasi 1998 hingga kini, baru ada 4 sosok yang punya daya magis luar biasa. Mereka itu adalah Megawati, SBY, Jokowi dan Ahok.
Jika ditilik ke belakang menjelang Pilkada DKI 2012, terekam dalam ingatan publik tentang daya magis Jokowi saat itu yang sungguh luar biasa. Itulah yang membuatnya sukses melengserkan petahana. Pada saat itu, warga Jakarta di bawah kepemimpinan Fauzi Bowo, sangat menderita. Berbeda dengan sekarang, di bawah kepemimpinan Ahok, Jakarta berubah total.
Di masa Fauzi Bowo, rakyat Jakarta benar-benar jenuh dan lelah melihat kepemimpinan buruk Fauzi Bowo dengan slogan ‘serahkan kepada ahlinya’. Faktanya, banjir, kemacetan, parkir, PKL, preman liar tak bisa diatasi. Kesengsaraan masyarakat Jakarta atas administrasi pemerintahan Fauzi Bowo membuat masyarakat Jakartata sangat mendambakan pemimpin baru.
Maka, ketika nama Wali Kota Solo (Joko Widodo) muncul ke permukaan, bersama mobil Esemkanya, masyarakat Jakarta ikut terkesima. Kisah sukses Jokowi di Solo membuat masyarakat Jakarta kepincut untuk menjadikannya sebagai gubernur. Mega pun sadar benar daya magis Jokowi itu lalu mencalonkannya menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta.
Menjelang Pilkada DKI 2012, nama Jokowi begitu tenar dan diperbicangkan di mana-mana. Maka menggemalah daya magis Jokowi di pelosok Kota Jakarta. Demam Jakarta baru pada Tahun 2012 membuat figur Jokowi sangat dominan. Hasilnya dalam Pilkada 2012, Jokowi berhasil menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan menyingkirkan Gubernur Petahana, Fauzi Bowo.
Hasilnya, kolaborasi kedua sosok ini mampu membuat masyarakat Jakarta terkesima. Sepak-terjang Ahok membenahi carut-marut birokrat Jakarta, menjadi membahana di mata rakyat. Ketika Jokowi secara gemilang menjadi RI-1, dengan sendirinya kursi Gubernur DKI beralih kepada Ahok. Dengan wewenang penuh Ahok, memulai menerapkan berbagai kebijakan gila. Gila dalam arti melakukan penertiban yang garang dan bergemuruh. Ahok tanpa ampun mulai melakukan berbagai penggusuran, penyelamatan ABPD dan penyikatan para mafia di birokrat. Hasilnya publik terkesima dan nama Ahok kemudian menjadi berkibar. Ahok sukses membuat dirinya berdaya magis.