Kolom Asaaro Lahagu: Cahaya Ahok Bongkar ‘fitsa Hats’ Novel,
Pada sidang ke empat , nama Habib Novel Chaidir Hasan Bamukmin begitu tenar. Ia tenar bukan karena kesuciannya, prestasinya, atau ada penemuan pentingnya. Ia tenar karena melawan Ahok. Sama seperti Jonru Ginting tenar karena lawan Jokowi, Novel ingin tenar dengan melawan Ahok. Hal yang sama dicoba-coba ditiru Bambang Tri yang ingin tenar dengan menulis buku fitnah keji “Jokowi Undercover”, namun berakhir di penjara.
Celakanya, Novel yang mengklaim sebagai habib ini, semakin rakus dan rakus. Ia tidak puas ketenarannya setelah melawan Ahok pada demo-demo sebelumnya. Novel ingin terus mencari ketenaran dengan sok-sokan menjadi saksi pelapor Ahok. Lalu apa yang terjadi? Bukannya menjadi semakin tenar, malah menjadi teler. Karena ia malu pernah bekerja di Pizza Hut, milik Amerika, Novel menulis di BAP ‘Fitsa Hats’.
Habib Novel pasti sengaja menulis Fitsa Hats dengan tujuan mengelabui orang agar tidak bisa langsung menghubungkannya dengan Pizza Hut. Namun, cahaya Ahok mampu menyinari kebohongan Habib Novel itu. Mengapa Novel sengaja menulis Fitsa Hats dan bukan Pizza Hut? Karena ia malu pernah bekerja di perusahaan kafir dan kemungkinan makan juga Pizza Hut sebagai makanan orang kafir.
Lewat frase penulisan kata Fitsa Hats, kadar nalar Novel bisa diukur sebagai manusia semberono yang bertindak dulu baru berpikir. Artinya, Novel tidak mampu berpikir konsekuensi selanjuntya jika kata Fitsa Hats menjadi viral di sosial media. Akibatnya sosial media mengolok-olok Habib Novel itu sebagai cerminan nalar jongkok yang luar biasa dungu. Tak tanggung-tanggung, ketenaran Habib Novel akhirnya dikubur dalam-dalam oleh sepenggal kata ‘Fitsa Hats’. Novel akhirnya menerima hukum karma, sama seperti yang dia lakukan kepada Ahok hanya dengan sebaris kalimat ‘dibohongi pakai surat Al-Maidah ayat 51’. Bahkan lewat sidang Ahok itu, nalar publik diterangi bahwa gelar habib yang dipakai Novel, tidak layak disandang oleh Novel karena ia bukan keturunan rasul.