Kolom Asaaro Lahagu: Debat Pilgub: Ahok Aduk Nalar Agus,
Soal penggusuran, nalar Ahok jelas. Mereka-mereka yang berada di bantaran sungai harus direlokasi atau dipindahkan ke rumah susun. Tidak ada jalan lain selain menggusur. Sementara pasangan Agus berpendapat tidak akan menggusur.
Jalan keluarnya?
Para penghuni di bantaran sungai dibiarkan dan rumahnya akan diapungkan. Lalu bagaimana dengan Anies? Jawabannya, penggusuran tidak boleh dilakukan. Rumah-rumah kumuh dan rumah di bantaran sungai, harus dilukis seperti di kali code. Yang perlu dibangun adalah mentalnya, akhlaknya dan manusianya. Teori.
Soal transportasi, program Ahok jelas. Ia akan terus memperbanyak bus Transjakarta dan meluncurkan transportasi berbasis rel seperti MRT, LRT dan kereta api bandara. Mobil mewah diijinkan namun dengan menarik pajak tinggi serta menerapkan jalan berbayar. Hasil pajak dan jalan berbayar itu, akan digunakan untuk mensubsidi dan membuat tiket bus Transjakarta lebih murah dan bahkan gratis.
Bagaimana jawaban Agus soal transportasi? Jawabannya hafalan dan terapung.
“Mari kita terus meningkatkan kualitas transportasi di Jakarta agar terus baik, aman dan manusiawi,” kurang lebih begitu jawaban Agus.
Anies? Pembangunan gedung, benda-benda dan materiil tidak begitu perlu. Yang perlu adalah membangun manusianya, mentalnya dan akhlaknya. Seorang pemimpin, harus benar-benar memperhatikan kata-kata. Teori.
Soal mengatasi kemiskinan, program Ahok jelas. Ia meluncurkan berbagai kartu termasuk kartu Jakarta One, mensubsidi para penghuni rusun, membentuk pasukan orange, biru, dan seterusnya, memberdayakan langsung para pedagang kaki lima dan UKM kecil dan menengah. Sementara untuk meringankan beban rakyat miskin, Ahok menggratiskan bus Transjakarta, biaya berobat gratis, mensubsidi harga daging sapi dan ayam.
Lalu bagaimana dengan Agus?
Meluncurkan duit cash. RW 1 miliar, dana bergulir untuk UKM Rp 50 juta dan keluarga miskin Rp 5 juta. Duitnya darimana? Sementara Anies mengatakan untuk mengatasi kemiskinan, ia akan membangun mental, akhlak dan manusianya. Membangun infrastruktur itu gampang, tetapi membangun mental manusianya susah. Kalau mentalnya sudah kuat, maka kemiskinan akan mudah diberantas. Oleh karena itu mental yang pertama-tama dibangun untuk mengatasi kemiskinan. Teori.