Kolom Asaaro Lahagu: Demo 212 Di Dpr, Ketakutan Kepada
Pertarungan Ahok-Anies di putaran ke dua dipastikan berlangsung sengit. Selama 2 bulan ke depan, kita akan menyaksikan pertarungan Pilkada paling sengit se Indonesia. Pun partisipatif warga dalam Pilkada DKI kali ini akan mencetak sejarah baru sebagai Pilkada yang melibatkan warga tertinggi di Indonesia sepanjang sejarah. Euforia kemenangan di kubu Anies satu pihak ditambah aktifnya kembali gubernur Ahok, akan menambah seru pertarungan.
Jelas posisi Ahok yang telah menjadi gubernur menakutkan kubu Anies dan para pendukungnya. Ahok dengan segala kekuasaan di tangannya, siap bermanufer, berkamuflase dan bermetafora. Ini jelas sangat menakutkan kubu Anies.
Dipastikan Ahok dan pendukungnya akan meniru strategi PKS yang militan. Para relawan Ahok, PDIP, Golkar, Nasdem dan Hanura akan terjun langsung memastikan bahwa semua temannya terdata di DPT dan bisa menyoblos pada tanggal 19 April mendatang. Semua bergerak. Golkar telah membunyikan lonceng pergerakan. PDIP siap bergerak di akar rumput.
Para relawan Ahok kini sedang bergerak cepat berkonsolidasi. Para simpatisan Ahok yang menjabat sebagai pengurus RT mulai didorong untuk memastikan bahwa semua temannya terdata di DPT, termasuk yang hanya menumpang KTP dan tinggal di lokasi lain. Yang tinggal di lokasi sesuai KTP, aktif menghubungi yang menumpang KTP, mengingatkan, menyemangati untuk datang pada hari pencoblosan.
Kini para pendukung Ahok sudah siap membelah Jakarta, mendatangi TPS sesuai KTP, memastikan daftar namanya di DPT, menyusuri jalan dari Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, Serpong demi mengurus DPT. Para pendukung Ahok kini bagai macan yang dibangunkan. Mereka telah belajar bahwa tidak ada gunanya larut dalam euforia semu di dunia maya, mabuk dengan flash mob di mall, bangga dengan Rumah Lembang yang selalu ramai.
Beberapa informasi intelijen telah dicium oleh Polri bahwa demo besok yang akan dihadiri 10 ribu dan bahkan 100 ribu menurut Tengku Zulkarnain akan menuntut dengan keras agar Ahok dicopot. Ketika tuntutan itu tak dikabulkan, maka ada kemungkinan pendemo melakukan tindakan anarkis. Tak tertutup kemungkinan, para pendemo akan memaksa untuk menduduki Gedung DPR/MPR.