Kolom Asaaro Lahagu: Hidup Terbolak-balik, Sby Cium Kekalahan, Ahok
Ketika menjadi Presiden, SBY menggembar-gemborkan filosofi hidupnya, yakni seribu teman, nol musuh. Itu berarti saat menjadi Presiden, SBY berusaha berteman dengan siapa saja dan menghindari permusuhan. Artinya, SBY berusaha berteman dengan semua pihak dan tidak menciptakan musuh yang menentang dirinya sebagai presiden. Jelas SBY tidak suka kegaduhan. Ia lebih suka damai, aman, nol konflik.
Ketika menjadi Presiden, SBY menutup mata dan kurang sensitif pada praktek ketidakadilan dan intolerasi di masyarakat. Namun setelah lengser dari kursi presiden, SBY justru sangat sensitif terhadap ketidakadilan, termasuk ketidakadilan terhadap dirinya. Ia merasa terus dizalimi, difitnah dan diusik. Padahal sekarang, toleransi dan keadilan ekonomi terus diperjuangkan oleh pemerintah. Keadilan ekonomi juga sangat diperhatikan. Sebagai contoh, dulu harga BBM di Papua dijual hingga Rp. 60.000 per liter. Sekarang harga BBM di Papua sudah sama dengan harga di Jawa. Inilah keadilan ekonomi.