Kolom Asaaro Lahagu: Licik, Prabowo Menyesal Usung
Untuk mengimbangi keinginan Prabowo itu, PKS dengan berani mengumumkan pasangan Sandiaga-Mardani. Prabowo sebetulnya sempat mengiyakan pasangan ini. Media sempat memberitakan bahwa Prabowo akan mendukung Sandiaga-Mardani. Namun, di saat bersamaan ada manufer dari Cikeas. Mantan Presiden SBY langsung memimpin koalisi Cikeas yang beranggotakan 4 partai, yakni Demokrat, PPP Romy, PKB, PAN mengusung calon sendiri.
Saat itu nama Yusril Ihzra Mahendra berseliweran sangat kuat sebagai calon. Namun, karena track record Yusril yang gagal membesarkan partainya sendiri, akhirnya koalisi Cikeas secara mengejutkan mengusung Agus Yudhoyono-Silvi sebagai Cagub dan Cawagub DKI Jakarta. Prabowo terkejut. Koalisi Cikeas ternyata tidak mau berkoalisi dengan Gerinda untuk mengusung satu calon. Keadaan itu membuat Gerinda-PKS harus mengusung calon sendiri.
Menjelang batas waktu pendaftaran di KPU, Prabowo sudah bulat mengusung Sandiaga sebagai cagub. Namun siapa wakilnya? Apakah Mardani? Atau Syafrie Syamsoeddin, Yusril atau yang lain? Dalam waktu yang sempit itu nama Anies Baswedan, semakin bergema. Istanapun sudah mewanti-wanti agar nama Anies sedapat mungkin tidak masuk dalam kalkulasi Prabowo. Mengapa? Anies sangat berbahaya.
Anies akan memanfaatkan apapun posisinya untuk menjadi Capres pada Pilpres 2019 mendatang. Jika kemudian ada pemahaman publik bahwa Anies dipecat dari menteri walaupun ia sebagai pendukung utama Jokowi pada Pilpres 2014, karena etos dan kinerjanya yang buruk, itu bukanlah alasan utama.
Alasan utama pemecatan Anies adalah gelagat Anies yang berambisi dan sangat berambisi menjadi Calon Presiden tahun 2019 mendatang. Jadi, Anies secara diam-diam akan memecat Jokowi dari kursi Presiden. Bila publik bertanya-tanya mengapa ada salah hitung anggaran Rp 23,3 triliun? Bisa dengan mudah menjawabnya. Bisa jadi dana salah hitung itu diarahkan untuk mendukung ambisi Anies menjadi Capres 2019 mendatang jika ia tetap menjadi menteri.
Nama Anies yang diplot sebagai calon wakil Sandiga pun sudah dibisikkan kepada Prabowo. Menurut para pembisik, nama Anies sangat berpotensi mengalahkan Ahok karena ia korban kezaliman Jokowi. Saat itu Prabowo masih bimbang soal kapabilitas seorang Anies. Apa betul seorang mantan menteri yang dipecat laku sebagai Cagub DKI? Sampai detik itu Prabowo masih tidak percaya.
Prabowo mulai percaya kepada Anies, ketika istana melakukan blunder. Ada isu yang menyebutkan bahwa istana meminta Partai Gerinda dan PKS agar tidak mengusung Anies Baswedan dalam Pilkada 2017. Istana pun digadang-gadang mengutus Menteri Sekretaris Negara Praktino menemui Ketum Gerinda Prabowo Subianto dan Wakilnya Fadli Zon. Walaupun isu pertemuan ini telah dibantah oleh Praktino, namun publik masih setengah percaya atas isu itu.
Ketika isu berkembang bahwa istana tidak menghendaki Anies, Prabowo malah semakin yakin kepada Anies. Para pembisik kemudian terus-menerus meyakinkan Prabowo bahwa Anies bisa mengalahkan Ahok karena dia adalah korban kezaliman Jokowi. Jadilah Prabowo akhirnya menjadikan Anies sebagai wakil Sandiaga. Jadi dalam kacamata Prabowo, Sandiaga-Anies adalah pasangan yang ideal.
Sial bagi Gerinda. Ternyata ketika dihubungi, Anies tidak mau kalau posisinya hanya dijadikan wakil. Dia mau jika Calon Gubernur. Terdesak oleh batasan waktu yang sempit dari KPU disertai lobi membahana dari PKS, akhirnya Gerinda menyetujui Anies sebagai Cagub. Hal yang kemudian membuat Sandi kecewa. Namun, karena sudah terlanjur disebut sebagai Cagub atau Cawagub, Sandi akhirnya setuju dengan hati dongkol.
Dalam perkembangan selanjutnya, terlihat PKS yang paling bersemangat memenangkan Anies. Di balik pertemuan Anies-Rizieq, peran PKS sangat signifikan. PKS berhasil menarik FPI masuk koalisi Gerinda-PKS. FPI yang secara senyap mendukung Agus-Silvi sebelumnya, berhasil ditarik oleh PKS. FPI pun mengkhianati SBY.