Kolom Asaaro Lahagu: Rizieq, Mainan Asyik Jokowi-tito-mega Sampai Lebaran
Berkat Demo 411 dan 212, nama Rizieq melambung. Di atas mobil komando, Rizieq dengan gagah mengaum, penuh kemenangan. Aroma kemenangan Rizieq menarik Amin Rais, Fadli Zon dan Fahri Hamzah untuk menebeng ketenaran Rizieq. Mereka untuk sementara mabuk kepayang dan berhalusinasi. Kemenangan besar di depan mata. Ahok dipenjara, Jokowi lengser, negara Islam tegak, NKRI tinggal sejarah.
Akan tetapi Rizieq yang sudah terlalu menggelembung bak balon raksasa, lupa daratan. Ia lupa bahwa ia besar karena ia digelembungkan oleh MUI, Cikeas, AA Gym, HTI, Amien Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Din Syamsuddin, Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, Rachmawati, Sri Bintang Pamungkas dan berbagai Ormas pendukung lainnya.
Bukan hanya itu, Rizieq lupa bahwa ia bersama FPI-nya hanyalah segelintir ormas seupil di hadapan mayoritas rakyat Indonesia yang mencintai NKRI. Dan kesalahan fatal Rizieq lainnya adalah ketidakmampuannya memprediksi kemampuan Jokowi dalam menyerang balik dirinya. Rizieq lupa bahwa di belakangan Jokowi ada kekuatan raksasa yang siap menerkamnya. Seolah Rizieq meremehkan kekuatan Jokowi, ia membabi buta menyerang. Rizieq lupa, bahwa panah api Jokowi sedang membidiknya.
Jokowi amat paham bahwa Rizieq bersama FPI-nya menjadi biang demo, biang gejolak-gejolak intoleran, biang perongrongan NKRI. Jokowi juga amat paham bahwa Rizieq dan FPI-nya adalah kendaraan siap pakai untuk ditunggangi oleh lawan-lawan politisnya. Apalagi Rizieq-FPI amat rajin menggoda para penunggang liar agar dimanfaatkan sebagai tunggangan, maka FPI dalam situasi panas Pilkada amat cepat mendapat penggemar. Rizieqpun menggelembung ke angkasa dan meninggi setinggi langit.
Ketika Rizieq berada pada puncak kesombongannya sekaligus kedunguannya, Jokowi bersama Tito dengan sigap ikut-ikutan menggelumbungkan Rizieq. Jokowi-Tito membiarkan Ahok yang menjadi incarannya, tersangka. Namun tuntutan Rizieq agar Ahok ditahan, tidak digubris oleh Tito. Ikuti setengah kemauannya, namun setengahnya abaikan. Begitulah taktik jitu Jokowi-Tito.