Kolom Asaaro Lahagu: Rizieq Terjatuh, Tito Tekuk Fpi Dengan
Sebaliknya, Tito juga tidak mematikan FPI secara perlahan-lahan karena ia tahu hal itu terlalu lama. Publik sudah muak kepada mereka. Tito tidak menganut strategi mematikan FPI secara perlahan-lahan. Tito Paham bahwa jika FPI dibiarkan, mereka akan besar kepala dan semakin merajalela. Lalu apa strategi Tito dalam menekuk FPI?
Mari kita lihat apa yang terjadi di Polda Jawab Barat. Kasus Habib Rizieq yang menghina Pancasila di Jawa Barat, sebetulnya bisa diambil alih oleh Mabes Polri. Tetapi Tito sengaja menginstruksikan kasus itu diproses oleh Polda Jawa Barat saja. Mengapa? Agar ibu kota tidak terusik oleh ulah Rizieq dengan FPI-nya jika diproses di Jakarta. Ini poin pertama.
Hal yang ke dua adalah untuk menurunkan derajat Rizieq setingkat lebih rendah. Artinya kasus Rizieq itu bisa diurus oleh Polda yang kebetulan TKP-nya ada di wilayah Polda Jawa Barat. Ini bagian strategi Tito agar Rizieq tidak besar kepala. Kasusnya bukanlah skala nasional tetapi hanya skala daerah. Tujuannya untuk meminimalisir efek jika Rizieq berulah. Jadi Tito membuka front Jawa Barat untuk menggebuk Rizieq di bawah komando Anton Charlian.
Momen pemanggilan Rizieq pun cukup menarik. Setelah gaung demo berhasil diturunkan, Tito dengan cepat memproses Rizieq yang sudah tersandung banyak kasus. Artinya Tito tidak menunggu sampai lama. Ada kesempatan, tunggu sebentar, lalu action. Dan itulah yang terjadi. Rizieq yang diancam akan dibawa paksa jika tidak datang memenuhi panggilan polisi, tidak mempunyai pilihan dan terpaksa datang.
Tito sudah paham rumus pemaksaan kehendak ala Rizieq selama ini. Untuk mendapat dukungan secara politis, Rizieq akan meminta bantuan kepada Fadli Zon dan Fahri Hamzah di DPR. Jika tetap diperiksa, Rizieq akan membawa massa FPI untuk menekan polisi. Dalam pemeriksaan, Rizieq biasanya akan bersilat lidah dan selalu berlindung di balik dogma agama. Setelah diperiksa, Rizieq akan membuat statement yang menyalahkan polisi. Inilah rumus Rizieq yang sudah dihafal benar oleh Tito. Tito Karnavian. Foto: Viva.co.id [/caption]