Kolom Asaaro Lahagu: Sby Curhat Di Twitter, Rahasia Jokowi
Jawaban-jawaban pertanyaan di atas akhirnya saya paham ketika SBY mengeluarkan cuitan di Twitter Jum’at 20 Januari 2017 kemarin. Perhatianlah baik-baik cuitan SBY tersebut.
“Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yang lemah menang? *SBY*”
Apa pesan dari cuitan SBY tersebut? Pasrah dan prihatin. Semua kalimat di atas bernada pesimis. Semuanya bernada menyerah. Madesu. Masa depan suram. Tak ada harapan. Putus asa dan semuanya terlihat buram dan gelap. Dan dalam keadaan serba suram, keluarlah doa prihatin dan seruan kepada Tuhan: “Ya Allah, Tuhan YME”.
Seruan SBY kepada Tuhan: “Ya Allah, Tuhan YME”, sebetulnya kalau hanya kata itu, masih bisa dibenarkan. Setiap orang dalam terdesak, layak berseru kepada Sang Khalik. Jadi tidak ada yang salah pada beberapa kata pertama itu. Tidak ada yang salah dalam seruan: “Ya Allah, Tuhan YME” karena orang beriman dan percaya kepada Sang Khalik, wajib berseru siang dan malam kepada Tuhan. Apalagi jika diterpa kesukaran hidup, maka berserulah kepada Tuhan. Sampai pada kata: ““Ya Allah, Tuhan YME”, publik masih memuji SBY sebagai sosok orang yang beriman. Mantap.
Masalah pertama kemudian muncul, ketika SBY melaporkan kepada Tuhan suasana negara yang sudah kacau-balau dan hancur lebur. “Negara kok jadi begini.” Ungkapan penggalan cuitan SBY ini menggambarkan suasana kehancuran. Harapan atas sebuah negara yang aman, damai, makmur dan sejahtera sebelumnya, tidak pernah terjadi. Sebaliknya yang terjadi kini adalah sebuah negara yang tengah kacau-balau, merana, tak aman, menderita. Di mana-mana ada kelaparan, penyakit, malapetaka yang semuanya mencerminkan kegagalan. “Negara kok jadi begini”.
Masalah ke dua menjadi lebih menakutkan karena ada kata: “Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa dan merajalela. Di negara ini menurut cuitan SBY, rupanya ada orang dari kalangan rakyat, pejabat, pemimpin, sukarelawan yang kerjanya memfitnah. Para juru fitnah ini menurut cuitan SBY itu, tengah berkuasa. Jadi mereka bisa menggiring opini. Mereka bisa mengubah seseorang yang sebelumnya terkenal baik, bersih dan santun menjadi jahat, kotor dan kasar, hanya dengan fitnah.
Hal yang lebih parah lagi, selain adanya pasukan juru fitnah, ada juga pasukan penyebar hoax, penyebar kabar bohong. Baik juru fitnah maupun penyebar hoax bisa diperankan oleh orang yang sama atau diperankan oleh orang lain secara pribadi atau kelompok. Dan menurut SBY, kelompok juru fitnah dan penyebar hoax telah berkuasa dan merajalela. Mereka sudah ada di mana-mana, di segala tempat dan peristiwa. Menakutkan.