Kolom Daud Ginting: Ndeso — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Daud Ginting: Ndeso

Kolom Daud Ginting: Ndeso

Jagat media sosial dan media mainstream tengah dilanda trending topik kata "Ndeso" karena Vlog Kaesang anak Presiden Ndeso. Iya, memang Jokowi Presiden Indonesia Ndeso, jangan tersinggung apalagi melaporkan ke polisi dengan dalih penghinaan.

Lupa ia, ketika Jokowi dicalonkan dan terpilih jadi Gubernur Jakarta banyak orang terkesima dengan penampilanya yang sederhana, identik dengan Ndeso. Kehadiran Jokowi di kancah politik ibukota antithesis dan meretas kemapanan, sepak terjang Jokowi mampu meruntuhkan sikap feodalistik elit politik yang suka pencitraan, lebih suka dilayani daripada melayani.

Kemudian dicalonkan jadi Presiden, dari Sabang sampai Merauke hingga ke belahan dunia nan jauh di sana menjuluki Si Kerempeng Jokowi "THE HOPE".

Artinya, banyak orang berharap kehadiran Jokowi mampu memenuhi keinginan hati masyarakat umumnya. Ternyata Jokowi memiliki gaya kepemimpin empatik, yaitu memimpin dengan memproyeksikan dirinya ke dalam diri masyarakat, sehingga mampu merasakan persis apa yang dirasakan oleh masyarakat kemudian mampu menyodorkan kebijakan sesuai dengan yang dirindukan masyarakat.

Jokowi kemudian bagaikan oase di hamparan gurun tandus dan kering, rasa dahaga masyarakat terobati dengan kepemimpinan Jokowi yang Ndeso.

Kepemimpinan Jokowi yang merakyat ternyata menjadi keunggulannya yang sulit ditandingi oleh para pembencinya (hater). Kepemimpinannya yang akuntabel menutup rapat-rapat celah sasaran tembak bagi musuhnya, capek menyibak dan menemukan kesalahan signifikan Jokowi tidak kapok juga. Dasar memang rasa benci telah merampok kejernihan hati nuraninya maka para pembenci Jokowi menghalalkan segala cara mencari-cari dan membuat-buat cara mendeskreditkan dan menghancurkan karakter Jokowi.

Vlog Kaesang Pangarep yang dilaporkan ke Polisi bulan Juli 2017 sedang digoreng para hater sebagai entry point menyerang Jokowi seiring berharap mampu mengulang kembali euforia keberhasilan menjadikan Ahok tersangka penista agama. Miris hati mengetahui niat buruk yang bersemayam dalam hati pembenci Jokowi itu?

Orang yang terganggu kepentingannya dan terusik zona nyamannya seketika memang bisa berubah menjadi orang binal, bertindak abnormal, berupaya melampiaskan libido nafsu birahinya dengan segala cara. Bila penting, mereka memperkosa kebenaran dan melanggar aturan main yang disepakati. GADIS NDESO dari Tenganan Pegringsingan (Kalimantan).[/caption]

Itulah gambaran sekilas tingkah laku para pembenci Jokowi, niat buruk melengserkan Jokowi dari kekuasaannya menjadi tujuan utama ucapan dan tindakannya. Hari-hari yang akan kita jalani sampai Pemilu dan Pemilihan Presiden 2019 atmosfir politik kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia akan diwarnai oleh sepak terjang merebut kekuasaan dengan lakon menghalalkan segala cara dan berupaya memonopoli kebenaran layaknya kaum fundamentalis. Bahkan, bila penting mempropagandakan kesalahan dan kemunafikan menjadi suatu kebenaran seperti yang pernah dilakukan Hitler pemimpin Nazi Jerman.

Goebbels Menteri Propaganda Zaman Kepemimpinan Hitler berkata, "Sebarkan kebohongan berulang-ulang ke publik, kebohongan yang diulang-ulang akan membuat publik percaya." Goebbels kemudian mengatakan, "Kebohongan paling besar adalah kebenaran yang diubah sedikit saja."

Kaum awam nan lugu boleh jadi berpikir politik itu kejam jika melihat sikap elit politisi yang suka menghalalkan segala cara ini. Tetapi, jangan hanya prihatin menyikapinya, namun bijak pulalah mengkonsumsi asupan informasi yang berseliweran di media massa.

Pilah dan telisik apa agenda tersembunyi di balik berita terpublikasi agar tidak turut terjabak dalam alam sesat mikir sebagaimana yang dilakukan penyebar rasa kebencian, menabur intoleransi serta mengadu domba sesama umat manusia.

Manusia memiliki keunggulan komperatif dibandingkan spesies ciptaan Allah lainnya, manusia memiliki kemampuan berpikir, mampu memilah mana baik dan salah. Namun rasionalitas akan memudar jika hati nurani dibajak oleh rasa benci dan merasa orang paling benar, padahal kebenaran itu multidimensional.

Banyak yang kita ketahui tetapi lebih banyak yang belum tentu kita ketahui, itulah misteri kehidupan.

Manusia yang menyadari ada kekuatan besar di luar dirinya yang mempengaruhi hidupnya idealnya tidak memonopoli kebenaran secara fundamentalis karena pengetahuan kita tidak seluas pengetahuan. Apa yang kita ketahui belum tentu seluas pengetahuan itu. Oleh karena itu, untuk hidup harmonis dibutuhkan kerelaan dialogis, yaitu sudi memahami apa yang diyakini orang lain walau tidak harus menerima dan menganut apa yang dipercayai orang lain.

Kemampuan seseorang menerima orang lain sebagaimana adanya orang lain tanpa memaksakan kehendak satu sama lain merupakan sikap solidaritas persaudaraan yang kemudian menjelma jadi subsidiaritas perspektif keyakinan leluhur yang mengatakan: "Aku adalah kau-kau adalah aku." Philosopi kehidupan seperti ini mulai tergerus dari khasanah kehidupan dewasa ini karena telah terjerumus dalam hidup pragmatis, ingin serba instan, bahkan menghalalkan segala cara.

Kehilangan rasa kebersamaan dan persaudaraan karena kepentingan pribadi sumber kebencian terhadap sesama, sehingga gampang menyalahkan dan memburukkan orang lain, sehingga Ndeso Masbulo (Masalah buat lo...).

Selamat berpikir merdeka... !!! Foto header: Sebuah desa wisata di Jogja. Sumber: The Binde .