Kolom Eko Kuntadhi: Meruntuhkan Tembok
Saya duduk melingkar bersama teman-keteman berdarah Tionghoa. Asli Makasar.
"Masih jauh lebih banyak yang tidak membenci. Percaya, deh," kataku pendek.
"Mereka membenci kadang karena tidak punya banyak informasi tentang kita."
Lalu kami mendiskusikan masyarakat yang sejak dulu dihinggapi sikap rasis.
Saya fikir kenyataanya gak sampai seperti itu.
"Konsumen kamu sebagian besar muslim, kan?," kataku.
Saya bertanya kepada rekan yang berbisnis memiliki beberapa outlet pakaian di Palopo.
"Iya yang laku malah busana muslimah."
"Jadi," saya melanjutnya, mirip orang yang sudah bener aja.
"Iya, setuju. Jadi perbedaan itu rahmat, ya?," mereka bertanya.