Kolom Eko Kuntadhi: Sekadar Informasi Tentang Copas — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Eko Kuntadhi: Sekadar Informasi Tentang Copas

Berita terkini ·
Kolom Eko Kuntadhi: Sekadar Informasi Tentang Copas

Dari kemarin banyak yang mengkonfirmasi saya mengenai salah satu tulisan saya yang katanya di-copas Afi Nihaya, ditempelkan ke dinding FB tanpa menyebutkan nama penulisnya. Saya sendiri mendapat informasi dari seorang kawan bahwa tulisan itu berada di sebuah fanpage yang diatasnamakan Afi. Dan menurut kawan tersebut Afi juga sudah mengkonfirmasi bahwa dia tidak pernah membuat fanpage.

Akun FB-nya hanya satu dan itu bentuknya akun personal.

Saya sarankan mari kita percayai informasi dari Afi bahwa dia memang tidak punya halaman fanpage. Artinya, yang mengcopas tulisan itu bukan Afi. Tapi ada orang lain yang mengatasnamakan dirinya. Jadi menurut saya, berhentilah melakukan penilaian buruk kepada Afi.

Sumpah, saya sendiri seringkali menulis dengan mendapatkan ide dari banyak orang. Dari komentar, dari tulisan orang lain, dari buku, dari cerita teman, dari berita dan sumber lainnya. Gak ada yang benar-benar genuin ide saya sendiri. Saya hanya membahasakan ide-ide tersebut dengan bahasa saya.

Saya tidak keberatan dengan tulisan saya yang dicopas lalu disebarkan, baik menyebutkan sumbernya atau tidak. Sama sekali tidak masalah. Siapapun yang memposting tulisan itu, bagi saya bukan sebuah kesalahan. Wong untuk buku saya saja, saya membebaskan siapapun yang mau memfotocopy, mencetak, atau memperbanyak sendiri. Gak perlu ijin-ijinan.

Mungkin mereka yang mempostingnya sudah membaca artikel lama saya mengenai pandangan saya soal ini. Nah, saya share kembali artikel lama itu :

COPYLEFT

Ada teman mengadu. "Tulisan lu diambil orang. Dia copy paste. Diambil begitu saja, lalu diganti nama penulisnya. Pakai nama dia."

Teman itu kelihatannya protes. Saya berterimakasih atas informasinya. Tapi, saya sendiri gak terlalu peduli.

Bagi saya, ide itu punya kaki. Ketika sudah dilepaskan, dia akan berjalan sendiri. Hinggap dimana saja. Semaunya. Khususnya berkecambah di kepala yang terbuka.

Saya memang suka menulis. Apa saja yang melintas di kepala akan saya tuliskan. Sekadar penumpahkan menjadi rangkaian cerita, informasi atau opini. Syukur-syukur bermanfaat. Jika tidak ada manfaatnya, ya Alhamdulilah juga. Setidaknya tulisan itu bisa jadi bahan perbandingan, sesuatu yang bermanfaat dan yang tidak ada gunanya.

Itulah gunanya gelap. Dia menjadi koeksisten (pendamping) keberadaan terang. Apa gunanya terang bila gelap tidak ada?

Ini jaman pasar bebas. Juga untuk ide-ide. Saya mengistilahkan free market idea, pasar bebas ide. Segala jenis pikiran dilaga. Dijajakan. Kita saksikan orang-orang menuliskan isi kepalanya setiap hari.

Untuk tulisan saya, saya menganut copyleft ekstrem, bukan copyright. Jadi jika ada yang mau mempergunakan, silahkan. Ada bebrapa teman yang meminta ijin untuk menemplokan ke blog mereka, monggo. Ada yang minta ijin untuk mengisi website-nya, ya silakan. Tanpa ijin, juga gak apa-apa.

Bahkan tulisan itu bisa ditemplok tanpa harus repot-repot menyebut sumbernya atau menuliskan nama saya. Meskipun untuk ide orang lain saya selalu berusaha tidak mencaploknya begitu saja.

Mungkin saja, ketika ada orang menggunakan tulisan saya lalu diganti dengan namanya, apa yang dia fikirkan sama dengan fikiran saya. Hanya saja dia tidak punya waktu untuk menuliskannya. Jadi dia bisa meminjam tangan saya untuk membantu melahirkan idenya tersebut. Nah, disini saya berposisi jadi bidan.

Beberapa kali memang saya menemukan itu. Rangakain kata yang pernah saya tulis, menjadi status di wall orang. Tanpa ada nama saya. Dan saya cuma tersenyum. Tidak ada masalah sama sekali. Jangan khawatir juga dianggap 'mencuri', karena tidak ada pencurian jika tidak ada yang kehilangan apa-apa.

Tapi sikap ini ya cuma untuk tulisan saya saja. Tidak berlaku untuk tulisan orang lain. Saya juga tidak sedang mengatakan sikap saya lebih benar dibanding orang yang bersikap sebaliknya. Ini seperti memilih warna kesukaan merah atau biru, keduanya tidak mewakili apa-apa.

Ide itu punya kaki. Dia ngelayap kemanapun dia suka. Ide adalah musafir yang bisa tidur di kepala siapa saja.

Dan saya meyakini itu. (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-2770968303719106", enable_page_level_ads: true });