Kolom Eko Kuntadhi: Slamet Selalu
"Sepedanya baru didandani," ujar lelaki asal Tulung Agung ini.
"Ada tetangga yang membenci saya. Dia menuding saya PKI," kisahnya.
"Ada yang mati juga di kapal. Dibuang ke laut."
"Waktu saya datang, Pak Pram mungkin sudah setahun tinggal di sini," kisahnya.
"Orangnya baik," ujar Slamet, menceritakan tentang Pramudya Ananta Toer.
"Banyak yang mati. Khususnya karena nyamuk Malaria," kisah Slamet.
"Sepertnyai mereka dibawa ke sini memang untuk dimatikan. Cuma gak ditembak langsung saja."
"Itu peninggalan para warga," kisah Sukardi.
"Nah, saya dapat sebidang tanah di Unit VI," ujarnya.
Mereka berdua membangun kehidupan di Unit VI.
"Saya gak tahu orang dari mana. Mereka berteriak-teriak untuk membakar gereja," kisahnya.
Rumah-rumah warga yang beragama kristen habis juga dibakar. Termasuk rumah Slamet dan Maria.
"Kami trauma dengan huru-hara politik," jelas Slamet.
Saya, bersama Birgaldo Sinaga , Andri (teman dari Antara) dan Dody Bayu Prasetyo (Indonesia Times) pamit pulang. Ada sedikit sangu yang kami titipkan. Mungkin semacam permintaan maaf dari gumulan rasa bersalah, bahwa bangsa ini pernah berdosa kepada lelaki bernama Slamet. (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-2770968303719106", enable_page_level_ads: true });