Kolom Ganggas Yusmoro: Agama Atau Budaya Lebih Membentuk Karakter — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Ganggas Yusmoro: Agama Atau Budaya Lebih Membentuk Karakter

Berita terkini Budaya ·
Kolom Ganggas Yusmoro: Agama Atau Budaya Lebih Membentuk Karakter

Konon, agama "diturunkan" untuk memperbaiki akhlak manusia, meluruskan budi pekerti yang saat itu dirasakan sudah mulai "bengkok". Yang merasakan bengkok siapa? Yang mau meluruskan siapa? Jawabanya tentu tergantung dari keyakinannya masing-masing.

Ketika "situasi" dengan budaya yang dianggap melenceng, diutuslah manusia manusia pilihan untuk memberi kabar tentang hidup yang baik, tentang akhlak yang baik, tentang ada Dzat yang lebih tinggi, lebih berkuasa dan lebih segalanya. Dzat itu harus disembah . Harus dipuja-puja. Harus ditempatkan yang lebih mulia di atas segala galanya.

Apakah agama tidak boleh diganggu gugat kebenarannya? Bagaimana jika ada yang bilang agama adalah Hasil imajinasi manusia juga? Untuk menjustifikasi tentu juga tergantung dari keyakinan orang masing-masing.

Mengapa negara-negara di Jazirah Arab yang berlandaskan dan bahkan memakai Hukum Agama malah selalu rusuh? Selalu ada pembunuhan-pembunuhan serta pembantaian-pembantaian manusia, juga dengan dalih agama? Lalu, jika agama adalah Hak Paten dari Dzat yang maha benar, di mana kebenaran itu? Mengapa faktanya bangsa-bangsa itu ingin lari dari negaranya sendiri yang berdasarkan agama?

Mari sekarang kita tengok negara yang mengedepankan Eksitensi Budaya sebagai Landasan bernegara, seperti Jepang yang tetap kokoh dan berpijak dalam Budaya Lokal. Budaya yang konon kata orang beragama adalah Hasil Imajinasi manusia. Sekali lagi HANYA HASIL IMAJINASI MANUSIA,,

Lalu, ada Tiongkok, dan Asia Tengah yang juga menitikberatkan berkehidupan budaya. Mengapa justru tidak pernah terjadi perang antar golongan? Jika agama adalah ciptaan dari Dzat yang maha benar, mengapa harus konflik dan konflik mencari pembenaran keyakinan itu?

Rasanya, kedamaian adalah idaman dari semua manusia di muka bumi ini. Sejatinya, jika berbudaya lebih membuat manusia tenteram dan damai, mengapa harus repot-repot dipersoalkan? Juga sebaliknya, jika beragama lebih membuat manusia damai, lebih berakhlak, lebih berperikemanusiaan, tentu rasanya juga cita-cita semua manusia di kolong langit ini.

Tapi faktanya? Mengapa ada teroris dan ISIS?

Foto header: Penampilan musik dan tari Suku Karo di Hotel Tiara, Medan. (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-2770968303719106", enable_page_level_ads: true });