Kolom Ganggas Yusmoro: Nu Menjaga Keutuhan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Ganggas Yusmoro: Nu Menjaga Keutuhan

Kolom Ganggas Yusmoro: Nu Menjaga Keutuhan

Di beberapa daerah, terutama di Jawa sebagai basis pergerakan Islam yang Rahmatan Lill allamain di bawah Payung NU sudah mulai menggeliat. Sudah mulai manaikkan bendera ketegasan bahwa Negri ini harus dijaga keutuhannya. Harus dijaga semua aspek kehidupan termasuk tradisi yang adiluhung. Tradisi yang sudah mengakar bahwa filosofi peninggalan nenek moyang yang humanis tidak boleh rusak dengan pemikiran-pemikiran merusak keharmonisan serta kerukunan yang terjalin sejak jaman dulu.

Berawal dari Sidoarjo, dengan Bansernya meminta dengan sangat agar penceramah ekstrim yang suka mendosa-dosakan Yasinan dan Tahlillan tidak jadi tampil. Lalu, di beberapa daerah mulai Ngawi, Nganjuk, dan beberapa daerah di Jawa Tengah, dan lain-lainnya juga berkomitmen bahwa Ormas radikal tidak boleh semena-mena mengahancurkan tatanan yang sudah mathuk dalam nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Juga di DKI, dengan terang-terangan GP ANSOR sub Ormas NU berada di belakang Ahok yang meski non Muslim.

Pernahkan mendengar celetukan dari tokoh agama yang kharismatik yang berbunyi "Lebih baik pemimpin non muslim namun adil, ketimbang pemimpin muslim tapi zalin"? Lalu, apa yg terjadi ketika seorang pemimpin berucap sanepo d engan bahasa bersayap? Tentu terjadi polemik yang berkepanjangan. Ini ditangkap di kalangan umat bahwa memandang kebaikan adalah tidak harus dari golongannya. Tidak harus dari agamanya. Kebaikan dari mana saja dan oleh siapa saja.

Sebenarnya banyak yang berharap pemerintah ikut turun tangan membenahi Ormas yang cenderung radikal. Namun, mengapa pemerintah seakan berdiam diri?

Ini musti dimaklumi. Ketika negara turun tangan dalam masalah agama, tentu akan terjadi justifikasi terhadap pemerintah. Ketika kebencian didasari oleh sentimen agama, rasanya situasi juga akan semakin memanas.

Terkecuali jelas-jelas sudah melakukan teror, melakukan intimidasi, apalagi berafiliasi dengan ISIS. Negara tentu saja akan meremukkan para teroris tanpa ampun.

Lalu, mengapa harus NU? Ke mana Muhamadiyah?

Itulah yang terjadi, ketika sebuah kepentingan sudah dicampur dengan politik ingin berkuasa, tentu pura-pura menutup telinga dan menutup mata. Bahkan sekaliber Pak Amin Rais malah juga menjadi penjual kompor.

Semoga geliat NU dengan umatnya yang luar biasa banyak menunjukkan tajinya.