Beranda / Kolom Ganggas Yusmoro: Untung Ada Kolom Ganggas Yusmoro: Untung Ada Berita terkini Budaya Kolom Politik · 2 Juni 2017 Sejak dulu, leluhur bangsa ini terkenal dengan tepo selironya, terkenal dengan tata krama, sopan santun terhadap apa saja dan siapa saja. Ketika Islam masuk di negri ini yang masih bernama Nuswantoro (dialek Jawa. sama dengan Nusantara gitulah), ketika bangsa ini masih beragama Hindu dan Budha, apakah lalu para Ulama berdakwah dengan cara-cara murang toto atau keras? Apakah mereka para Ulama menyebarkan Islam itu dengan cara mengkofar-kafirkan mereka? Mengatakan "wooo .. itu Bid, Ah dosa besar. Kalian akan masuk neraka!!" (?) Ora. Tidak. Ulama dulu membaur dengan masyarakat, menyikapi dengan sopan, dengan lemah lembut. Bukan hanya dengan cangkem atau omongan. Ulama saat itu memberi contoh bukan malah mlekotho (memaksakan kehendak). Ulama saat itu mengedepankan akhlak bukan malah merusak. Ulama saat itu ndandani, memperbaiki bukan malah merecoki. Ulama saat itu bukan meden-medeni (menakut-nakuti), tapi malah menghormati. Lalu, apa hasilnya? Islam yang rakhmat untuk sekalian umat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Menjaga kerukunan serta toleransi membuat suasana damai aman dan sentosa. Ketika mengetahui bahwa bangsa ini teramat sangat menghormati leluhur yang meninggal, yang istilah Jawa mikul duwur mendem jero , dan saking hormatnya terhadap orangtua yang meninggal, ada tradisi makan-makan selama 7 hari, para ulama mengajak mereka baca Yasin. Tahlillan. Menurut cerita, saat itu rakyat heran, yang dibaca itu apa? Namun, ketika diceritakan itu adalah memuji kepada sang yang Khalik, yang maha memberi kehidupan, mereka malah seneng. Oohh.... sangat cocok, kyai. Wayang juga demikian. Saat itu, sebelum dimodifikasi, pagelaran wayang sama sekali monoton dan sangat membosankan. Oleh ulama didandani, diperbaiki, dimasukkan ajaran Islam. Direnovasi dengan seperangkat gamelan. Malah ada Punokowan Semar, gareng, Petruk dan Bagong sebagai perlambang rakyat kecil tapi mempunyai kesaktian yang luar biasa. Lalu ketika Jaman Kolonial, para Ulama sadar bahwa untuk mengusir penjajah harus ada wadah. ada persatuan dari para ulama agar bisa menyatukan satu pikiran, dibentuklah Nahdlatul Watan Kebangkitan Berkebangsaan). Karena dirasa kurang cocok maka dibentuk Nahdlatul Fikri. Ini dirasa juga kurang pas. Maka pada 1926, dibentuklah Nahdlatul Ulama. Hingga sekarang. Apakah para Ulama NU juga pernah dikritik? Ya, pernahlah. Dalam suatu ketika, Kyai Hasyim memakai celana dan jas. Di kalangan umat Muslim saat itu geger. Kyai Hasyim dianggap melenceng, dianggap lali kiblate , dianggap kafir, dianggap liberal. Apakah lalu Kyai Hasyim marah-marah? Apakah Umat NU lalu juga beli Perangko 6.000 dan menggeruduk agar yang ngritik meminta maaf serta membuat pernyataan maaf? Oraaa... Kyai Hasyim tetep masam mesem. Dinyek yow wis ben. ngko rak yow meneng dhewe. Gusti Alloh kuwi ndeleng menungso karono Akhlak (Yaa, biar saja, nanti kalau sudah capek kan akan diam sendiri yang menghina. Alloh itu melihat manusia karena akhlaknya). Nah, itulah filosofi NU. NU yang mengedepankan Akhlak, yang mengedepankan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara, yang oleh Gus Dur diimplementasikan dengan baik meski seorang Gus Dur yang juga lulusan Mesir namun pernah dihina Rissik Syihab yang dikatakan: "Gus Dur itu buta matanya dan buta hatinya." Apa kata Gusdur? "Jangan dipikir. Biar saja. gitu aja kok repot." Untunglah negeri ini ada NU. Lalu, apakah FPI menguntungkan? Entahlah, yang jelas prangko 6000 ribu sekarang susah nyarinya. Siapa yang beruntung, coba? Iklan