Kolom M.u. Ginting: 2 Musuh Dewan Jenderal (jebakan Terbesar
Sudah banyak buku dan dokumen diterbitkan dalam soal kudeta 30 September 1965, tetapi buku John Roosa yang terakhir dianggap paling mendasar dengan fakta-fakta ilmiah tepercaya serta uraian dan analisa yang juga masuk akal. Seperti pendapat Dubes Howard P. Jones yang bertugas dari 1958 sampai 24 Mei 1965. Jones berpendapat bahwa PKI untuk berkuasa lebih cenderung mengambil jalan 'damai' lewat kekuasaan Soekarno daripada menggulingkan Soekarno dengan kekerasan.
Dalam kenyataan politik sehari-hari, memang itulah yang dijalankan oleh PKI, dengan NASAKOM dsb. Tetapi, juga dengan tuntutan 'angkatan ke 5' mempersenjatai buruh dan tani, yang ditolak tegas dan keras oleh Yani dan Nasution. Bersaman dengan itu, mereka sekuat tenaga mempengaruhi Soekarno untuk tidak mengizinkan angkatan ke 5 itu.
Pimpinan PKI juga masih meyakini bahwa mengkudeta Soekarno dengan kekerasan dari pihak siapa saja akan gampang ditumpas karena pengaruh Soekarno masih begitu kuat di kalangan rakyat Indonesia.
Berlainan dengan pendapat Dubes Marshall Green – yang menggantikan Jones. Dia dengan tegas berpendapat bahwa harus ada dalih tersembunyi (pretext ) untuk menyalahkan PKI supaya bisa mengadunya dengan pihak militer terutama Angkatan Darat, seperti yang ditulis oleh John Roosa dalam bukunya " some sort of dramatic action from the PKI that would provide a justification for repressing it. . . . ".
Green sebelum ke Indonesia pastilah sudah mendengar dan mempelajari 'premature communist coup' yang sudah sejak setahun sebelum terjadi sudah banyak jadi percakapan hangat dan luas di kalangan diplomat negara-negara antek-antek imperialis neolib AS.
Green mempersiapkan semua bantuan yang diperlukan dalam pelaksanaan 'premature communist coup' ini. Selain bantuan finansial tentu persiapan taktis praktis yang harus dengan teliti dipersiapkan dan dilaksanakan. Dekrit Dewan Revolusi yang akan langsung dibacakan lewat RRI pastilah juga sudah disiapkan sebelumnya, jelas bukan oleh Untung dkk, karena Untung tak punya banyak orang. Yang ada juga tidak profesional. Terlihat dalam penangkapan jenderal-jenderal itu, dimana orang-orang Untung tidak mengerti mau ditahan atau mau dibunuh dan akhirnya dibunuh semua, dibuang ke Lubang Buaya.