Kolom M.u. Ginting: Dari Film Tentang Thukul Ke Dinamika
Sekiranya film kisah kehidupan aktivis Wiji Thukul diperlihatkan ketika Soeharto berkuasa, pastilah akan dapat kecaman atau sensor atau bahkan larangan. Tetapi sekarang tidak begitu lagi. Kebebasan berpendapat dan mengutarakan pendapat sudah lebih terjamin dibandingkan era Soeharto, era kediktatoran kekuasaan.
Kontraversi yang saling berhadapan dalam mengexpresi pendapat atau dua hal bertentangan yang selalu masih berhadapan dalam hal apa saja, tidak bisa dihindarkan. Begitu dulu dan begitu tetap sekarang dan seterusnya. Bedanya ialah kalau di era Soeharto, tidak ada diskusi lagi, pengadilan dan pemerintah satu suara dan langsung ditindak tanpa ada debat/ diskusi yang bisa mengembangkan pikiran bagi semua pihak. Kontravesi yang diselesaikan dengan cara paksaan, hanya menguntungkan sepihak, dan kebenaran sepihak tidak menambah pengetahuan baru.