Beranda / Kolom M.u. Ginting: Dari Perkawinan Kahiyang Ke Kbb Dan Kolom M.u. Ginting: Dari Perkawinan Kahiyang Ke Kbb Dan Berita terkini Kolom · 24 November 2017 Karo Bukan Batak (KBB) dan Mandailing Bukan Batak (MBB) berkobar sangat gencar-gencarnya sehubungan dengan pesta perkawinan putri Jokowi dengan Bobbi Nasution. Nasution adalah salah satu marga orang Mandailing. Tersebar luas penjelasan/ pencerahan siapa Batak dan bukan Batak menjadi lebih populer di masyarakat Indonesia. Katanya Mandailing sudah menyatakan bukan Batak sejak 1922, Karo sejak 1952, Simalungun sejak 1963. Rame juga tetapi banyak positifnya bagi Karo dan Mandailing, dan juga bagi rakyat Indonesia. Terutama sekali bagi orang-orang Jawa yang sama sekali buta terhadap soal Batak. Bagi orang Jawa, Jokowi sudah ada pengalaman nyata ketika ke Parapat pesta Danau Toba yang sempat menyaksikan Bupati Simalungun menangis ketika Parapat dikatakan daerah Batak oleh tamu menteri. Mereka tidak mengerti kalau Parapat terletak di daerah ulayat Suku Simalungun. Pelajaran Batak kali ini (dalam pesta perkawinan putri presiden) memang sangat meriah, tetapi juga mengharukan dan pembelajaran penting bagi rakyat Indonesia tentang suku-suku bhinnekanya. Ethnic competition dalam politisasi Batak semakin jelas bagi orang awam. Pembatakan dipakai kolonial untuk memecah belah dan, sekarang, dipakai sebagai alat kompetisi etnis; ethnicgroups self-assertion for power, regional power or central power . Terima kasih Bobbi dan Kahiyang yang telah memunculkan pencerahan yang gemilang terutama bagi Suku Mandailing dan Suku Karo, 2 suku bhinneka tunggal ika yang punya hak dan kewajiban sama dengan semua suku-suku lain di negeri multietnis Indonesia (bukan sebagai bagian dari suku lain). (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-2770968303719106", enable_page_level_ads: true }); Iklan