Kolom M.u. Ginting: Etno-nasionalisme
Ketika Trump dalam Pilpres menang di AS, fabrik besar Ford dan Toyota langsung mau dipindahkan oleh pemiliknya ke Mexico cari tenaga kerja murah dan tujuan 'menghantam' Trump dengan bikin pengangguran lebih besar lagi di AS. Trump sebaliknya mengancam tidak boleh masuk produksi kalian ke AS, atau akan dipajaki tinggi kalau masuk ke AS. Kedua perusahaan itu mundur teratur. Trump berhasil menyelamatkan buruh/ pegawai AS dari pengangguran akibat hijrah fabrik itu ke luar negeri. Indonesia ini sungguh bangsa yang besar. Negara lain paling satu hingga tiga suku, kita ada 714 suku bangsa. Saya rasakan sendiri saat berkunjung ke daerah-daerah. Pengucapan salamnya saja berbeda-beda. Dulu waktu masuk Sumatera Utara, saya kaget. Setahu saya kalau datang ke sini hanya 'Horas'. Saya ke Nias, saya mau bilang 'Horas'. Tapi diberitahu, "di sini bukan 'Horas' Pak. Di sini 'Yahohu'." Hampir keliru. Masuk lagi ke Karo, salamnya 'Mejuah-juah'. Agak geser sedikit lagi: 'Juah-juah'. Coba kalau saya tahunya hanya 'Horas'. Nantinya kalau ke Karo saya bilang 'Horas', ke Nias 'Horas', bisa ditertawain saya. Begitulah. Keberagaman ini anugerah Allah bagi Indonesia. Foto: Biro Pers Setpres [/caption]
" David Cameron has criticised "state multiculturalism" in his first speech as prime minister on radicalisation and the causes of terrorism. At a security conference in Munich, he argued the UK needed a stronger national identity to prevent people turning to all kinds of extremism" (BBC).
Setahun kemudian tante Angela mengkhianati kata-katanya sendiri ("multikulti has failed totally"). Dia memasukkan sebanyak mungkin imigran Arab ke Jerman terutama ketika ISIS bentukan Obama-Clinton-Ford sedang merajalela di Syria dan Irak. Merkel bikin kebalikan dari kata-katanya, sampai-sampai ex Kanselir Helmut Kohl bikin peringatan keras sama tante Angela.
"Jerman tidak bisa jadi new home for migrants," kata Kohl [ Apr 18, 2016].
Perkembangan nasionalisme ini memang sangat mengerikan bagi the old establishment neolib ini. Neolib Greed and Power ini pastilah akan membikin perlawanan terakhir atau rontaan terakhir dengan jalan apa saja atau apapun yang terjadi. Sebaliknya arah perubahan dunia juga sudah pasti, artinya aliran kuat nasionalisme tiap negara, atau ethnonasionalisme (suku/kultur asli) di tiap negara juga akan terus berkembang tak bisa dihalangi. Di Indonesia sudah banyak yang memahami. Di sini dibutuhkan saling mengakui, saling menghargai dan saling menghormati, serta menghormati pepatah leluhur bangsa Indonesia: Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Di sinilah keberhasilan bangsa Indonesia yang multi-cultural itu. Bedakanlah dengan politik 'multikulti' atau politik 'multikulturalisme' yang sudah membusuk itu.
"Whether politically correct or not, ethnonationalism will continue to shape the world in the twenty-first century." ( Jerry Z. Muller is Professor of History at the Catholic University of America).
Dari segi etno-nation yang lebih kecil atau suku, Erik Lane bilang dalam bukunya tentang globalisasi:
"The focus is almost exclusively at ethnics and not nations . . . Thus, people are so intimately connected with a culture that they are, so to speak, constituted by the culture in question or embedded in such a particular culture.
Di sinilah benarnya dan TEPATNYA strategi saling mengakui, menghargai, menghormati, dan dimana kaki berpijak disitu langit dijunjung. Ini berlaku bagi suku putih AS dan orang-orang asli eropah yang NB telah dilupakan selama abad multikulti. Juga berlaku tepat sekali terutama bagi suku-suku bangsa Indonesia. Inilah memang kunci persatuan sejati rakyat Indonesia yang multi-etnis itu dalam usaha rakyatnya mempertahankan dan mengembangkan NKRI.
Clip youtube di bawah adalah lagu Karo berjudul Erkata Bedil (Suara Bedil) yang mengisahkan para gerilyawan turun dari daerah pegunungan Karo merebut kembali Kota Medan dari tentara Belanda di masa Agresi Militer Belanda II.