Kolom M.u. Ginting: Kudeta
CIA dan majikannya pada tahun 50-an masih 'rendah' pengetahuannya soal meruntuhkan kekuasaan suatu negara yang tidak disukai oleh pemerintahan imperialis AS, terutama kekuasaan Soekarno pada tahun tahun 60-an. Pengetahuan 'rendah' ini masih terus sampai 1965 dan baru ada perubahan setelah penggantian Dubes Howard P. Jones digantikan oleh Marshall Green Juni 1965 dan berhasil bikin kudeta yang 'indah' itu menjatuhkan Soekarno pada bulan September.
Keindahan kudeta ini digambarkan oleh seorang penulis DiEugenio: "It was a multi-layered, interlocking masterpiece of a clandestine operation. A coup d' etat that was so well designed, so beautifully camouflaged, so brilliantly executed". Ke'indah'an coup itu terutama dipuji oleh DiEugenio karena ada 'kudeta pembukaan' oleh Untung 30 September dan yang sudah direncanakan setahun sebelumnya dan yang langsung diikuti dengan kudeta sesungguhnya besok harinya 1 Oktober menjatuhkan Soekarno.
Taktik kudeta mulai dari daerah (pemberontakan bersenjata PRRI/ Permesta) menjatuhkan Soekarno jelas sudah gagal dan kemudian diganti dengan taktik menyusupi kekuasaan pusat dan berhasil gemilang. Dubes AS HP Jones sejak semula menentang cara ini, karena menurutnya Soekarno sangat kuat pengaruhnya di kalangan rakyat Indonesia.
Lihat kritik John Robbins di sini: JOHN ROBBINS CRITIQUE OF THRIVE MOVIE
Dan lihat jawaban Foster Gamble di SINI . (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-2770968303719106", enable_page_level_ads: true });