Kolom M.u. Ginting: Latihan Militer Fpi Di Lebak Patut
Latihan 'bela negara' di Lebak ini sangat menakjubkan memang, menimbulkan pertanyaan yang serius. Ini bisa juga dibanding-bandingkan dengan situasi seperti pada jaman PRRI-PERMESTA dulu, tahun 1958. Kalau dulu itu tentu masuk akal, begitulah jamannya, banyak golongan mau bikin negara sendiri atau negara yang dianggap cocok dengan politik masing-masing. Sebagian besar mau bikin negara Islam, seperti di Aceh (GAM) yang berkobar sampai permulaan Abad 21.
Pengetahuan Pusat soal Aceh atau soal daerah-daerah Indonesia pada umumnya sangat minim ketika menangani soal Aceh atau soal perundingan dengan GAM pada tahun-tahun pertama Abad 21, terutama dari segi kultur/ budaya/ etnis di Aceh. GAM mengerti soal ini dan memanfaatkan dalam perjanjian GAM-Pusat 2005, dimana GAM menuntut batas Aceh seperti batas 1954. Pusat tidak menganggapnya masalah karena memang tidak mengerti masalahnya. Tetapi, kemudian, setelah muncul tuntutan pemisahan diri dari Aceh (ALA dan ABAS), Pusat sedar bahwa Aceh bukan hanya Aceh seperti mereka pahami selama ini. Orang Gayo bukan orang Aceh, orang Alas atau orang Singkil, begitu juga orang-orang (suku-suku) yang bergabung dalam ABAS, semuanya bukan Aceh seperti yang ada dalam pengetahuan orang-orang pusat.