Kolom M.u. Ginting: Marx, Lenin Dan Aidit Tentang Agama
Kenyataan bahwa agama telah bisa berubah menjadi masalah pribadi telah terjadi di masyarakat negeri maju Eropah Barat, terutama sekali terlihat di negeri-negeri Skandinavia. Tetapi, di negeri-negeri berkembang masih menjadi persoalan orang banyak atau massa penduduk. Ini karena sejak semula religion ini adalah masalah 'opium' bagi massa rakyat banyak yang tertindas dan tersiksa di era feodal dan terutama sekali pada permulaan pembangunan dan perluasan industri di Barat.
Pengertian sederhana begini bertendensi dan berpotensi sangat tinggi memancing pertentangan dan permusuhan di kalangan penduduk, terutama dalam membenci dan memusuhi partai dan pengikut PKI. Perumusan ini sangat berpotensi memancing permusuhan besar dalam masyarakat. Penyederhanaan ini jadinya terlihat menyimpang dari pengertian Marx sendiri tentang 'opium' itu. 'Opium' pada zaman Marx dan dalam tulisannya diartikan sebagai obat penenang atau obat mengurangi rasa sakit. Dan bagi kaum buruh ketika itu memang itulah yang berlaku, sebagai alat penenang jiwa mengalihkan neraka yang dihadapi dalam kehidupan nyata setiap hari, dialihkan ke kenikmatan surga di kehidupan yang akan datang.
Dari kata-kata Marx itu jelaslah bahwa religion itu adalah sebuah ilusi yang diciptakan atau diharuskan oleh situasi yang memaksa orang (kelas buruh) untuk berilusi bahagia. Surga dalam kehidupan yang akan datang. Sekilas mengelak dari kehidupan nyata yang sangat getir, kejam dan menyiksa, yang harus dihadapi setiap harinya oleh kaum buruh industri. Bagaimanakah sekarang ini pandangan atau penilaian terhadap 'opium' atau religion, 'the sigh of the opressed crature, the hart of a hartless world, the spririt of spiritless world di zaman Karl Marx itu? Sekitar 100 tahun setelah era Marx itu, tepatnya pada pertengahan kedua dari abad 20, religion atau 'opium' itu tidak lagi dipandang sebagai 'illusory happiness'. Terutama karena penterjemahan yang sangat provokatif oleh Lenin maupun Aidit (dimana agama semata-mata diartikan hanya sebagai 'racun bagi rakyat') telah mempengaruhi dan mengubah keseimbangan kontradiksi dari 2 hal bertentangan menjadi lebih tajam.