Kolom M.u. Ginting: Nasionalis
Trump menuduh media besar AS tidak memberitakan soal serangan teroris yang sering terjadi di Eropah, seperti teror Nice dan Paris. Dia mengatakan koran-koran ini 'very, very dishonest' dan menambahkan "they have their reasons and you understand that" katanya di depan para perwira dan prajurit di basis Angkatan Udara AS di Florida 6 feberuari lalu.
Tujuan penting lainnya ialah untuk memecah belah, bikin aliran pengungsi untuk mengacau dan memecah kesatuan nasional/ nasionalisme Eropah dan AS, dalam rangka promosi politik 'multikulti' yang sudah bikin busuk dunia abad lalu. Bikin promosi 'open borders' sebagai bagian penting dari multikulti (multikulturalisme). Dalam hal ini seorang profesor dari Australia Frank Salter bilang kalau 'the open borders movement is profoundly immoral'. Atau, terakhir menlu Poland bilang 'tidak ada negara yang berkewajiban menerima imigran dari negeri lain'. Jadi, ISIS memang ada 2 tujuan pokoknya: Pertama, duit dan ke dua, ialah 'open borders movement'. Dengan aliran pengungsi digerakkan secara sengaja di belakang layar untuk menentang gerakan nasionalisme yang sedang melanda Dunia Barat.
Maka dengan berakhirnya era Obama berakhirlah juga era neoliberalisme atau seperti dikatakan: The age of Obama was the last gasp of neoliberalism . Trump lebih meyakinkan lagi nasionalismenya dengan mengatakan 'Americanism not globalism is our credo' . Sudah jelas bahwa politik internasional Trump punya prinsip yang sama sekali terbalik dengan politik lama AS, Trump tak mau mencampuri urusan negara lain, dan mengakui kepentingan nasional tiap negara adalah yang utama. Dia mau membikin Amerika bersinar dan jadi contoh (make America great again ), karena selama setengah abad terakhir ini sudah redup bahkan identitasnya jadi kabur, buruh pada nganggur besar-besaran karena fabrik-fabrik pada lari ke China. Karena itu dia bilang 'buy American and hire American '.