Kolom M.u. Ginting: Pelajaran Menghadapi — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom M.u. Ginting: Pelajaran Menghadapi

Berita terkini Kolom ·
Kolom M.u. Ginting: Pelajaran Menghadapi

Bisa dipastikan memang kalau pada Pilpres nanti akan terulang lagi kejadian seperti Pilgub Jakarta putaran 1 maupun ke 2. Rumah ibadah dimanfaatkan untuk tujuan politik. Dari analisa jurnalis Allan Nairn juga ditunjukkan secara gamblang bahwa Pilgub Jakarta tujuan dan sasaran utamanya ialah Presiden Jokowi, memanfaatkan 'lidah keseleo' Ahok di Pulau Pramuka soal ayat Almaidah.

Allan Nairn bilang bahwa Kivlan Zen mengejutkan saya ketika menyatakan bahwa Gubernur Ahok telah memberi “sebuah berkah” kepada gerakan tersebut dengan "keseleo lidahnya" terkait Al-Maidah ayat 51.

Dia melanjutkan: "Dalam penampilan mereka di muka publik, para pemimpin gerakan diharuskan mengklaim bahwa mereka selamanya terluka oleh ucapan Ahok. Tapi salah satu dari mereka, dengan senyum simpul, mengakui bahwa secara strategis pernyataan Ahok itu mereka terima dengan senang hati, karena ia memungkinkan FPI dan para sponsornya menggeser perimbangan kekuasaan di Indonesia, melesatkan reputasi mereka dari preman jalanan menjadi pakar agama." ( Lengkapnnya lihat di SINI ).

Allan Nairn pakai istilah 'menggeser perimbangan kekuasaan' atau dengan kata-kata yang jelas ialah bikin makar untuk menggusur Jokowi. Banyak yang bersemangat bikin penggusuran ini, Indonesia terbagi dua seperti pada Pilpres 2014. Situasi ini akan terus dimanfaatkan oleh kekuatan luar Divide and Conquer Internasional yang memanfaatkan segala macam perbedaan, atau konflik dan menghidupkan konflik terutama isu agama dan isu komunisme. Kedua isu ini sangat rentan di Indonesia.

Gerombolan Divide and conquer internasional ini (neolib) mengerti sungguh cara pikir agamais ini dan memanfaatkan dengan sangat licik sentimen kedua isu ini, seperti memanfaatkannya dalam teror 1965. Tujuan utama pecah belah ini ialah SDA, duit,duit . . . triliunan dolar seperti di Syria dan Irak dengan mendirikan ISIS lebih dahulu.

Isu agama dan komunisme pastilah akan diangkat lagi nanti pada Pemilu Presiden 2019. Banyak yang menduga akan terjadi pemanfaatan isu ini.

Seorang peneliti dari National University Australia Prof. Marcus Mietzner dalam pembicaraannya di Jakata beberpa hari lalu, bilang bahwa Pilpres 2019 akan digunakan juga isu agama dan isu komunisme untuk memenangkan salah satu pihak seperti di Pilgub Jakarta 2017. Pemikiran dan analisanya bisa dimengerti mengingat isu agama dan komunisme masih sangat tinggi imbasnya dalam perpolitikan di Idonesia. Tetapi apa yang positif dalam 'perpecahan' Jakarta ialah bahwa pengetahuan soal perpecahan ini sudah semakin tinggi di kalangan publik, sehingga usaha antisipasi dan penangkalan terhadap isu itu bisa lebih tinggi.

Isu komunisme masih tersisa di kalangan pendukung diktator Soeharto, dan di kalangan penduduk yang sangat berpendidikan rendah. Di kalangan terpelajar dan generasi muda intelektual, isu komunisme sudah hampir hilang karena komunisme memang bisa dipelajari sendiri keakhirannya dalam proses perjalanan sejarah yang sudah pasti, dalam proses dialektika thesis-antitesis-syntesis (Hegel). Tetapi buta kontradiksi dan dialektika Hegel masih berjubel di negeri berkembang. Itulah yang dimanfaatkan oleh gerombolan divide and conquer internasional (neolib internasional) demi mencapai tujuan politik dan tujuan duit (Greed and Power).

Isu agama masih akan berlangsung lebih lama lagi, juga pertama karena tingkatan pengetahuan tadi yang sangat langsam perkembangnnya dikalangan penduduk miskin di negeri berkembang. Karena itu juga masih panjang ceritanya apa yang dikatakan pemimpin spiritual Dalai Lama bahwa sekarang ini: 'Religion has become an instrument to cheat people', seperti memanfaatkan ayat 51 dari lidah keseleo.

Dalam Pilpres DKI dimanfaatkan 'berkah' dari lidah Ahok yang 'keseleo'.

Pelajarannya: 1. kalau pun tidak ada lidah yang 'keseleo' bisa dicari 'keseleo' lainnya, karena tujuannya tetap sama: pecah belah nation Indonesia.

Pelajaran ke 2 dan yang lebih penting ialah bahwa semua perpecahan ini digerakkan dari luar (menurut panglima TNI adalah dari AS dan Australia). Seperti perpecahan di Syria dan Irak juga digerakkan dari luar dengan membangun ISIS. Lalu menjarah triliunan dolar dari SDA (minyak) kedua negeri itu.

Pelajaran ke 3, bagi Ahok sendiri sebagai pribadi bahwa dalam perpolitikan tidak cukup hanya jujur, tidak korupsi, dan semangat dan usaha membangun saja, tetapi harus juga bisa ngomong. Artinya omongan harus jadi pembantu dari sikap jujur dan usaha pembangunan itu. Omongan sangat sensitif dan rentan dalam perpolitikan. Terlalu banyak sudah orang jujur disingkirkan bahkan dibunuh dalam perpolitikan machiavelli.

Secara pribadi Ahok sendiri bikin 3 pelajaran dari pengalamannya di Pilgub:

"Pelajaran pertama ya jangan ngomong sembarangan. Ke dua, pejabat publik enggak boleh umbar di depan umum. Ke tiga, nasihat Abang masih didengerin ," Ahok melanjutkan, seraya tertawa. Abang maksudnya ialah Surya Paloh. lihat di SINI .