Kolom M.u. Ginting: Pemikiran Ketinggalan Jaman, Tapi Bangga — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom M.u. Ginting: Pemikiran Ketinggalan Jaman, Tapi Bangga

Berita terkini Kolom ·
Kolom M.u. Ginting: Pemikiran Ketinggalan Jaman, Tapi Bangga

Belakangan ini, dikirim armada AS ke semenanjung Korea, memata-matai percobaan balistik Korut. The establishment AS berhasil menekan dan menggunakan Trump di Gedung Putih untuk bikin pengintaian percobaan balistik Korut. Sama halnya dengan penekanan atas Trump untuk kirim 59 rudal ke Assad sebagaimana dilansir oleh merdeka com.

Omongan yang patut diucapkan dan patut didengarkan lebih dari setengah abad lalu dalam tahun-tahun setelah perang dunia ke dua. Permulaan sengit-sengitnya perang dingin. Tetapi kalau sekarang dikatakan 'Perang habis-habisan' (perang nuklir). . . siapa yang bakal habis? Yang jelas dan pasti habis ialah Korut, tetapi yang lain belum tentu habis.

Cita-cita jadi penguasa dunia atau jadi negara terkuat di dunia dengan senjata nuklir bahkan tidak dipercaya lagi oleh 'global hegemony' Greed and Power. Gantinya dipakai 'proxy war' atau 'cyber war' atau perang apa saja dengan 'senjata ringan', atau senjata yang tak terlihat. Yang sudah terdaftar sekarang cara yang dipakai ialah dengan terorisme, narkoba dan korupsi. Cara ini sudah terlihat keberhasilannya di seluruh dunia, seperti terorisme dikatakan oleh Prof Chossudovsky.

Memang ketiga cara ini (terorisme, narkoba, korupsi) belum masuk ke Korea, bukan karena kekuatannya tetapi karena Korut selama ini masih termasuk sebagai negara tertutup bagi dunia luar. Ketertutupannya jugalah yang bikin negara ini jauh ketinggalan, sampai masih membanggakan balistik nuklir buatan dari era setengah abad lalu. Ketinggalan negeri ini secara fisik masih bisa diubah dengan olah raga, tetapi ketinggalan secara pemikiran, butuh waktu lebih lama memperbaikinya. Sama halnya dengan ketinggalan pemikiran orang-orang yang masih 'sakit' anti komunis di Indonesia. Ketinggalan ini malah dibanggakan pula.

Dari segi lain, harus dimengerti juga bahwa orang-orang ketinggalan ini memang sengaja di'pelihara' atau digembosi pula dari luar oleh orang-orang divide and conquer internasional sejak pertengahan abad lalu di Indonesia, tetapi masih tetap giat sampai abad ini. Terlihat juga misalnya dari gerakan makar 212 dan 313 yang berhasil dicegah oleh aparat keamanan dan pemerintahan RI. Walaupun Indonesia punya kegagalan menangkis serangan divide and conquer ini di tahun 1965, teror 3 juta dan penyingkiran Soekarno (makar). Tetapi, kegagalan 1965 kelihatannya bermanfaat juga sekarang (dari segi pengalaman) dalam menangkis berbagai gerakan makar yang digerakkan oleh kekuatan luar ini pada tahun 2016 dan 2017.

Dan, terlihat memang peningkatan kesedaran dan pengetahuan umum aparat dan pemimpin negara ini, presiden dan wk presiden dalam menghadapi semua kekacauan yang dipaksakan dari luar itu.

Dalam soal terorisme, misalnya, presiden Jokowi bilang setelah teror Thamrin bahwa terorisme tidak perlu ditakuti karena tujuannya memang menakut-nakuti katanya. Juga wapres JK dengan tegas menyatakan bahwa terorisme tidak ada kaitannya dengan agama islam. Berlainan dengan pernyataan presiden Hollande yang bilang kalau teror Nice yang dilakukan oleh seorang psikis penyandu narkoba, katanya adalah teror islam, dan lebih memalukan lagi ialah Hollande memperpanjang a state of emergency seluruh Perancis gara-gara ketakutannya sama orang psikis penyandu narkoba supir truk di Nice itu.

Dari pengetahuannya yang semakin luas dan mendalam, aparat keamanan RI menunjukkan kesigapannya menangkis semua serangan orang luar ini yang mau bikin perpecahan dan kekacauan di kalangan rakyat/ publik negeri ini, berhasil dengan gemilang menangkis serangan dari gerakan 212 dan 313.

Gerakan ini sudah disinyalir terlebih dahulu oleh Kapolri sebagai gerakan makar, dan panglima TNI bilang biaya terbesar terorisme datang dari Australia, selain dari Malaysia, Brunei dan Filipina.

"Gerakan pecah belah datang terutama dari AS," kata panglima.

Ini tentu sesuai juga dengan definisi Chossudovsky soal terorisme internasional itu.

Foto header: Depari Angle (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-2770968303719106", enable_page_level_ads: true });