Kolom M.u. Ginting: Rizieq Akan Menjadi
Tersangka atau tidak, persoalan yang selalu menarik dan melibatkan banyak orang (karena bisa mengikuti lewat internet, bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia) adalah soal keseimbangan antara hak bebas bicara atau berpendapat (freedom of speech) dengan kewajiban untuk tidak merugikan orang lain sebagai akibat dari kebebasan berpendapat itu (defamation law, hukum tentang fitnah).
Dalam banyak hal, memang gampang untuk bisa secara jelas membedakannya, seperti misalnya bikin 'sweeping' atau obrak-abrik warung nasi atau warung penjual bakso waktu bulan puasa, dari pihak organisasi tertentu atau orang tertentu. Ini jelas tidak patut, semua orang bisa melihat, biarpun tanpa pengetahuan hukum karena persoalannya jelas tidak menghormati hak orang lain dan jelas merugikan pihak lain. Atau, di sini bisa dengan gamblang tak meragukan dimasukkan ke dalam kriteria kriminal tindak pidana.
Yang lebih rumit lagi ialah hasil karya seni seperti karikatur Nabi Muhammad yang dianggap menghina bagi sebagian pemeluk agama (Islam). Tetapi, ini bisa berlainan pengaruhnya bagi berbagai negeri. Mungkin termasuk dipengaruhi kultur dan way of thinking yang berbeda.
Di negeri Barat, tidak begitu besar pengaruhnya (sesama orang Barat sendiri). Hal lain yang bagi negeri tertentu sudah jelas fitnah tetapi bagi beberapa negeri didiamkan saja oleh orang yang terfitnah, terutama kalau yang terkena adalah pejabat publik. Fitnah dengan kata-kata kasar terhadap Jokowi ketika Demo 411 tidak dilanjutkan oleh yang terfitnah (Presiden Jokowi).
Juga ketika Pilpres AS dimana Trump terang-terangan menuduh Obama sebagai pendiri ISIS dan Hillary Clinton sebagai co-foundernya. Obama maupun Clinton tidak menggubris fitnah Trump. Terakhir lagi ialah adanya fitnah terhadap Trump soal 'golden shower' ketika Trump di Moscow katanya dia mengundang pelacur-pelacur Rusia ke hotelnya yang juga tadinya hotel yang diinap oleh Obama ketika ke Moscow. Dalam 'show' itu katanya ranjangnya dikencingi karena ranjang itu bekas dipakai Obama ketika dia di Moscow.
"Dikencingi karena Trump sangat dendam kepada Obama," katanya.