Kolom M.u. Ginting: Trump, Soekarno Abad
Mendengarkan pidato pelantikan Trump, terasa seakan-akan kita dibawa ke suasana mendengarkan pidato nasionalist Soekarno, terutama dalam soal kenasionalan dan kepatriotan suatu bangsa, persatuan seluruh bangsa, di bawah satu bendera dan di bawah perlindungan Tuhan. Sungguh menakjubkan memang pidatonya. Dari segi patriotisme dan nasionalisme, itu mengingatkan pada pemikiran dan gerakan nasionalis Soekarno yang terjadi lebih dari setengah abad lalu.
Dengan munculnya pidato pelantikan Trump kemarin, kekuatiran terhadap kepemimpinannya dari pihak lawan politiknya bukan semakin mereda, tapi semakin menjadi-jadi. Ini terutama karena terakhir-terakhir ini terdengar juga analisa yang lebih 'melembutkan' dimana diduga kalau Trump hanya ngomong tetapi dalam prakteknya nanti akan lain atau seperti presiden biasanya lagi; khususnya dilihat dari sikapnya terhadap Hillary Clinton, yang mengancam akan mengadilinya ketika kampanye, tetapi tak diucapkan lagi kemudian. Tetapi harapan itu semua sia-sia dengan pidatonya yang malah semakin tegas membedakan dirinya dari the Establishment atau pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Dia bilang:
The establishment protected itself, but not the citizens of our country.
"Karena yang bikin banyak kerja baru di AS justru perusahaan-perusahaan Eropah di AS," kata mereka.