Kolom M.u. Ginting: Trump, Sri Mulyani, Dan Jp
Dalam persoalan menghadapi manover Toyota terlihat jelas sikap Trump memihak siapa, kepentingan nasional AS atau kepentingan perusahaan besar neolib AS. Nationalist Trump sangat jelas dalam pernyataannya dan tidak meragukan bagi siapapun dimana dia berdiri dalam pertarungan dunia Abad 21, antara politik dan ekonomi nasionalis atau internasionalis globalis.
Persis seperti ancaman Trump ke China, akan menaikkan pajak masuk barang-barang China ke AS, yang kebanyakan juga diproduksi oleh perusahaan AS yang hijrah ke China karena mengejar tenaga buruh rendah. Buruh-buruh di AS banyak nganggur karena perpindahan fabrik neolib ini ke luar, tetapi hasil produksinya di jual pula di AS dengan pajak rendah atau tanpa pajak sama sekali. Kalau semua perusahaan bikin begitu, sudah jelas kebangkrutan AS tetapi meningkatkan kekayaan perusahaan besar, bikin pengangguran besar-besaran bagi kelas buruh AS, dan AS semakin bangkrut.
Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi), Bahlil Lahadalia mendukung langkah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memutuskan hubungan kerja sama dengan JP Morgan Chase Bank.
"JP Morgan Chase Bank berbahaya sebab berusaha menciptakan opini destruktif untuk menggoyang perekonomian beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia," ujarnya seperti ditulis Antara .
Dia menduga ada upaya pihak luar menciptakan instabilitas di sektor keuangan dan perekonomian dikaitkan dengan meningkatnya tekanan politik Pilkada dan kasus penistaan agama.
Analisa BPP Hipmi memang betul sekali, tekanan politik dari luar tak bisa dipisahkan dari tekanan ekonomi juga.