Kolom Telah Purba: Tuhan, Sinabung, Tanah Karo Dan Kalak
Masihkah berhak orang Karo hidup dalam kedamaian di Taneh Karo? Tulisan ini saya harapkan bisa mengetuk hati kita semua yang merasa bangga sebagai pemilik Taneh Karo Simalem, baik yang tinggal di dalam maupun di luar Kabupaten Karo.
Perlu dan sangat penting kita ingat bahwa, yang lebih dahulu menjadi panutan atau tata cara dalam berinteraksi dengan alam adalah cara leluhur kita orang Karo. Leluhur kita semua, yang sudah pernah hidup di alam Taneh Karo, dahulunya amat dan sangat teramat santun kepada alam dan seisinya. Adat kesopanan sangat diutamakan di mana pun mereka berada, sehingga ular berbisa sampai harimau pemangsa tidak pernah mau mengganggu orang Karo. Dahulu, ketika mereka ingin mencari rezeki ke hutan belantara atau bahkan sekedar untuk mencari kayu bakar, mereka tidak pernah khawatir. Apakah keistimewaan mereka? Sebenarnya, tidaklah ada yang istimewa, karena mereka hanya melaksanakan kebiasaan leluhur mereka yang sebelumnya. Contohnya, "Ercibal Belo" alias meletakkan sirih berikut gambir dan kapur serta rokok dan korek api. Cara meletakkan sirih atau pun rokok itu punya kode etik tersendiri. Mereka harus dengan hormat dan takzim, sambil memohon perlindungan kepada para penguasa hutan. Kok kepada penguasa hutan? Bukankah Tuhan Maha Kuasa?