Malam Pesona Budaya Karo Di Prsu Membahana. Bupati Karo — Sorasirulo
Sorasirulo

Malam Pesona Budaya Karo Di Prsu Membahana. Bupati Karo

Berita terkini ·
Malam Pesona Budaya Karo Di Prsu Membahana. Bupati Karo

DENHAS MAHA. MEDAN. Malam Pesona Budaya Karo di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) malam ini berlangsung meriah. Ribuan orang hadir dan menikmati suguhan dari seniman-seniman Karo seperti Antha Prima Ginting, Ramona Purba, Jacky Raju Sembiring, Romello Armando Purba, Brevin Tarigan dan lain-lainnya.

Gundala-gundala, Tari Njujung Baka dan Ndikkar yang dipersembahkan oleh Simpei Sinulingga beserta kelompoknya menambah meriahnya Malam Pesona Budaya Karo ini.

Bupati Karo Terkelin Brahmana dan Muspida Kabupaten Karo yang hadir turut mengapresiasi acara di Pekan Budaya Karo Sumatera Utara. Beliau Juga menambahkan agar ke depannya Taman Mejuah-juah Berastagi setiap minggunya dapat diisi dan dimeriahkan oleh paa seniman Karo.

"Pemerintahan Kabupaten Karo akan mendukung para seniman Karo untuk tampil secara rutin di Taman Mejuah-juah, Berastagi," ujar Terkelin Brahmana kepada ribuan hadirin.

Adapun Theo Jeremia Barus mengatakan, begitu banyak warga Karo dan non Karo yang hadir di Pekan Raya Sumatera Utara malam ini membuktikan kerinduan akan seni budaya Karo.

"Ke depan hendaknya kerinduan ini meningkat dan semakin produktif," katanya.

Antha Pryma Ginting setelah menyanyikan lagu Habis Tempat berpesan dan mengajak semua ribuan warga Karo yang hadir agar Mulai mencintai Seni Budaya Karo dari hal yang paling kecil. Blunder Bupati Karo

Di balik kegembiraan atas tingginya minat menyaksikan acara kesenian Karo malam ini, tersisa sebuah blunder yang sebenarnya tak perlu terjadi bila saja Bupati Karo mengenal Sejarah Suku Karo. Dalam Kata Sambutannya, dia mengatakan bahwa orang-orang Karo di Medan adalah perantau.

"Waduh," celutuk seorang mahasiswi yang hadir di sana.

"Sudah secara resmi pendiri Kota Medan adalah Guru Patimpus Sembiring Pelawi dan monumennya pun ada, mosok seorang Bupati Karo membuat pernyataan seperti itu," kata si mahasiswi Karo yang tak habis pikir.

Seorang penonton lain berkata lebih laconic lagi.

"Orang-orang dari Laguboti sana pun mengaku-ngaku asalnya dari Medan makanya orang Jakarta bilang Horas sama orang asal Medan. Ini si kawan, dibilangnya pula orang Karo perantau di Medan. Perlu belajar Sejarah Suku Karo kawan kita yang satu ini," katanya sebagaimana tertangkap oleh telinga wartawan anda.

Tapi ada juga yang melihat ucapan Bupati Karo itu hanya sebagai kecerobohan atau tidak sadar ucapannya yang didengar publik bisa berdampak lain di dalam kompetisi etnik sekarang ini. Menurutnya, Bupati tidak berpikir sejauh itu.

"Bupati hanya menjelaskan mengapa panitia menyediakan makanan adalah mengingat sebagian dari penonton datang dari tempat jauh, seperti halnya Karo Gugung, Langkat dan Deliserdang. Maksudnya baik tapi dia ucapkan dengan bahasa yang kesalahannya fatal," kata pria setengah baya ini.

Tapi memang perlu banyak pembenahan. Kalangan birokrasi ini mungki saja terbiasa dengan pertemuan-pertemuan di kalangan pemerintah sehingga mereka mempergunakan bahasa yang sudah terbiasa mereka pakai. Lihat saja souvenir miniatur rumah adat yang mereka jual di Paviliun Kabupaten Karo, ditulis Batak Karo. Ini menandakan Bupati dan timnya dari Pemkab Karo tidak mampu keluar dari ranah bahasa birokrasi untuk masuk ke ranah politik budaya.

Ini juga menandakan ketidakgesitan Pemkab Karo mengikuti irama dan langgam Karo akhir-akhir ini yang meronta melepaskan diri dari diklaim Batak.

"Memang Pemkab Karo tak perlu melibatkan diri dalam perdebatan itu, tapi tentu saja tak ada salahnya berbuat sedikit lebih pintar menghadapi perdebatan. Kecuali kalau Bupatinya tidka mau tahu. Itu lain soal," masih kata pria setengah baya tadi. (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-2770968303719106", enable_page_level_ads: true });