Mengenal Aksara
Tulisen (aksara) Karo atau juga disebut Surat Aru (Haru), merupakan salah satu tulisan (aksara) no-Latin yang ada di Nusantara. Dikatakan Tulisen Karo karena tumbuh dan berkembang, serta dipergunakan secara meluas di wilayah-wilayah Karo (Dataran Tinggi Bukit Barisan dan Pesisir Pantai Timur Sumatera), dan dipakai oleh masyarakat Karo untuk menuliskan cakap (bahasa) Karo. Ciri khas tulisen (aksara) Karo[/one_fourth]
Indung surat (huruf induk/ huruf utama) yang terdiri dari 21 surat (huruf/ font), merupakan pelambangan konsonan, walau pun dalam pelafalan atau pengejaannya selalu diakhiri oleh bunyi "a" yang nota bene adalah bunyi vokal. Selanjutnya, vokal dan karakter penjelas lainnya (diakritik ) dirangkum dalam kelompok anak surat (anak huruf) yang penempatannya biasanya setelah indung surat. Anak surat dalam aksara Karo dibagi dalam tiga kelompok, yakni: 1) Menghilangkan bunyi “a”, 2) Mengubah bunyi “a” menjadi bunyi “i, u , e, é, dan o”, serta 3) menambahkan bunyi “h” dan “ng”.