Saya Karo Bukan — Sorasirulo
Sorasirulo

Saya Karo Bukan

Berita terkini ·
Saya Karo Bukan
Oleh: Seriulina Karosekali

Karo Bukan Batak (KBB), mungkin bagi yang belum pernah mendengar masih bertanya-tanya maksudnya apa. Tapi, bagi yang sudah pernah dengar KBB, khususnya kalak (orang-) Karo yang tidak setuju atau anti dengan KBB serta yang merasa dirinya bagian dari Batak, pasti banyak punya persepsi.

Ada yang bilang lebay, cari sensasi, buat perpecahan, ada kepentingan tertentu seperti politik dan banyak lagi pendapat-pendapat lainnya. Bahkan ada yang mencoba mengaitkannya dengan isue Saracen dalam upayanya meredam isu KBB, atau sekedar ikut memperpanas situasi.

Saya sendiri setuju dan sangat mendukung gerakan KBB sebagai sebuah pencerahan dan penegasan identitas Karo, bukan karena saya benci atau ingin membuat jarak dengan saudara dan teman dari Suku Batak atau yang merasa Batak. Bukan pula ada kepentingan tertentu, karena saya bukan politikus, bukan pejabat, bukan pengusaha pemburu proyek, dan juga bukan pula seorang akademisi yang lagi buat skripsi, tesis, desertasi, atau jurnal ilmiah lainnya.

Tapi, memang dari orangtua saya tidak pernah mendengar cerita kalau Suku Karo itu berasal dari ataupun bagian dari Batak. Dan saya juga merasakan dan mengamininya.

Yang saya ingat, cerita Kerajaan Haru, Putri Hijau, Meriam Puntung, dan tentang merga Karosekali yang sering saya dengar kisahnya waktu masih kecil, yang biasa diceritakan orangtua-orangtua Suku Karo kepada anak-anaknya menjelang tidur, yang dalam tradisi Suku Karo dikenal dengan turi-turin. Kesemuannya itu tidak pernah ada mengindikasikan kalau Karo merupakan bagian dari Batak, bahkan tidak memiliki keterkaitan cerita dengan Suku Batak. Karo Trekker Community [/caption]

Bagi saya, identitas dan asal usul serta kebudayaan itu perlu diketahui, karena itu adalah salah satu menjadi kebanggaan bagi kita dan mungkin juga bagi sebagian besar atau sebagian kecil orang. Bayangkan jika satu suku bangsa tidak memiliki itu, apa yang bisa kita banggakan? Atau jika generasinya tidak merasa bangga akan itu, maka bersiaplah akan terhapus dari muka bumi ini.

Sebenarnya kalau secara hitungan untung rugi secara sepintas, mungkin orang Karo lebih bangga dimasukkan ke Batak, karena jika dihitung jumlah keseluruhan populasi Batak jauh lebih besar dibanding Suku Karo, tentunya, juga persentasi keberadaan orang Batak jauh lebih besar di segala bidang.

Akan tetapi, saya tetap lebih bangga menjadi Karo. Walau tidak jarang banyak godaan, bahkan ada juga yang bilang, “pelajari dulu Batak itu apa." Ini maksudnya apa, ya? Seperti mempromosikan sebuah produk agar dibeli saja.

Sebenarnya saya juga sudah pernah baca Batak itu apa walaupun hanya sekedarnya saja, seperti masakan tadi cuma dicicipi saja. Tapi pengalaman saya yang sangat identik dengan sebutan Batak itu adalah Toba atau Tapanuli. Karena sedari saya tahu ada suku lain selain Karo, adalah Jawa dan Batak.

Belakangan Batak semakin banyak dibahas, membuat pengetahuan kita tentang Batak pun kian luas. Dan semakin jelas kalau Batak itu merupakan kelompok etnis yang terdiri dari Toba, Humbang, Silindung, dan Samosir. Tidak termasuk Karo di dalamnya.

Sewaktu duduk di bangku SMP di kampung, saya punya teman marga Manalu. Jika teman lain bertanya, “kamu orang apa (?), karena yang lain masih merasa asing degan marganya (siswa di sekolah itu 99% orang Karo), dia pasti jawab Batak. Bukan Toba dan bukan pula Batak Toba sebagaimana biasanya ditulis di buku-buku.

Ketika saya tamat SMP dan bersekolah ke Medan, banyak bertemu dengan suku-suku yang lain. Sewaktu kenalan kita saling tanya, hingga ke sukunya. Ada yang menjawab Suku Karo, Suku Batak, Suku Jawa, Suku Mandailing, dsb. Bahkan dulu kami sering panggil teman, “hei batak, hei jawa, begitu juga teman-teman memanggil saya, “hei karo". Tidak ada yang panggil saya "hei Batak" atau "hei Batak karo".

Itulah perbedaan Suku Karo dan Suku Batak yang saya ketahui, lihat, dan rasakan, yang dibingkai menyatu dalam NKRI dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Sungguh indah perbedaan negeri ini, jadi, mengapa kita anti dan takut akan perbedaan?