Sebuah Lampu Dan Sebongkah Harapan Di Wae
Dari Bandara Namrole, Buru Selatan (Maluku) kami menyusuri jalan panjang. Keluar dari kota kecil, kami mulai menapaki jalan berkelok. Meliuk-liuk diantara pebukitan. Tanaman kayu putih berserakan di kiri kanan jalan. Tumbuh liar di sekeliling.
Bau aspal masih tercium karena jalan ini relatif baru saja diperbarui. Mobil melaju dengan kecepatan lumayan di jalan yang lenggang. Hanya sesekali berpapasan dengan kendaraan lain. Sepanjang perjalanan dari Namrole menuju Desa Wae Ngapan ada 2 jembatan baru yang kami lewati.
"Sebelum ada jembatan ini, kita lewat jembatan kayu," ujar Yongki, driver kami (Dia menunjuk sebuah jembatan beralas kayu di bawah).
Jika melewati jembatan itu kendaraan harus menukik agak curam lalu menanjak setelah melaluinya.
"Repotnya, jika hujan, licin. Sangat berbahaya lewat sini."
Jalan dan jembatan baru itu sedikit menandakan bahwa infrastruktur memang sedang diperbarui di pelosok ini. Derap pembangunan terasa.
"Kita sudah lama menanti perbaikan jalan dan jenbatan. Baru sekarang bisa menikmatinya," papar Yongki.
Setelah 3 jam lebih menyusuri jalan beraspal, kendaraan berbelok. Memasuki jalan tanah. Satu jam kamu terguncang-guncang di kendaraan akhirnya sampai ke desa Wae Ngapan. Tarian penyambutan dipertontonkan di muka desa. Beberapa lelaki memainkan parang dengan pekik suara yang riuh.
"Termasuk anak-anak. Paling sisa dua tiga anak di sekolah," kisah Atus.
"Tapi asapnya hitam," ujar Yappy (Saya juga menyaksikan dinding rumah yang rata-rata menghitam).
"Kalau gak ke hutan, mereka bisa sekolah di sini," ujar Yappy tentang 2 anaknya.
Di sekolah Artus mengajar sendirian. Mencakup seluruh kelas.
"Parang itu selain untuk keperluan hidup juga sebagai senjata. Di sini masih sering terjadi perkelahian. Kalau berkelahi, ya, pakai parang itu," kisah Artus. Ngeri. Penulis diapit 2 warga setempat.[/caption]
Diam-diam saya bersyukur lahir dan besar di wilayah yang semua infrastruktur sudah tersedia. Bagaimana jika saya terlahir di desa terpencil seperti itu? Mungkin membaca saja saya tidak akan sanggup. Makan bareng di malam hari diterangi satu bola listrik tenaga surya.[/caption]