Beranda / Sebuah Satire Karo Bukan Sebuah Satire Karo Bukan Berita terkini · 16 April 2017 Oleh: Natalie Sembiring Saat General Repetion (GR) untuk acara Paskah, kami membawakan tari Batak (tortor ) karena tahun ini kebetulan giliran Inkulturasi Batak. Maka datanglah ibu-ibu mengomentari cara kami menari. "Mangembas hentakkan kakinya dan kepal tangannya. Jangan buat gemulai gitu," kata salah seorang diantara ibu-ibu itu sambil mencontohkan gerakannya. Merasa kurang puas, ibu ini terus merepet: "Susah memang kalau Orang Karo yang menari Batak." "Jangan bawa-bawa cara seperti menari Karo lah untuk menari Batak !! Jangan nampak kali kalau yang menari bukan orang Batak," sambungnya dengan harapan agar tarian ini lebih memancarkan karakter Batak daripada karakter Karo karena sebagian kami adalah Orang Karo. Diiiienggggg ahhhh, yang bener saja ibu ini. Apa tidak tahu dia Batak Karo? Jadi, maksud ibu bahwa Karo bukan Batak, gitu? Ingin rasanya kutunjukkan perjuangan sebagian Orang Karo untuk diakui Batak. Ingin kubilang ke ibu ini, jangan begitu, buk, bangga kali saudara kami sebagian Orang Karo sebagai Batak, sampai-sampai mereka marah sekali terhadap orang-orang Karo lain yang menyerukan Karo Bukan Batak alias KBB. Sakit sekali rasanya lho, buk. Sudah dianggapnya kita satu nenek moyang Si Raja Batak, tapi ibu bilang pula yang menari bukan Batak. Tahukah ibu bagaimana rasanya menjadi bagai daun sirih yang tak bertangkai? Meski ada dalam ikatan tapi tidak ikut dihitung, karena Orang Karo menghitung jumlah daun sirih dalam satu kepitan hanya menghitung tangkai daunnya. Begitulah rasanya kalau Orang Karo disebut-sebut sebagai Orang Batak tapi padahal bagi orang-orang Batak sendiri Karo jelas Bukan Batak. Sedih, bukan? Belum lagi kami Orang Karo ini suka berdebat sesama kami tentang kebatakan Karo. Lalu, ibu tidak akui pula kamii ini Batak. Kuja nari nge kami pepagin e, ibu? Tega kali ibu inilah. Sudah durhaka pun kami sama budaya kami sendiri, sama nenek moyang kami demi menjalin persaudaraan atas nama Batak. Tapi tetap juga kami dianggap anak tiri di Batak. Hancur, bu, hancur hati ini, ibuuuuuu ...... (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-2770968303719106", enable_page_level_ads: true }); Iklan