Suamiku Patric Jadi Patricia (5)
Aku tidak malu tetapi aku takut reaksi mereka. Aku tidak akan sanggup mendengar nyinyiran mereka dan meletakkan kesalahan padaku. Bahwa aku atheis, aku kurang dekat dengan Tuhan, aku kurang ibadah. Bahwa aku gagal menjadi seseorang yang percaya akan Tuhan. Aku gagal menjadikan suamiku percaya akan Tuhan. Aku gagal menempa anakku menjadi orang yang percaya. Aku lupa budaya dan kultur. Aku adalah looser . Dan banyak lagi cemohan lainnya. Negara Belanda adalah salah satu negara yang menerima LGBT tetapi dalam komunitas tertentu, banyak yang belum positif tentang hal ini.
Peristiwa yang menimpaku dan keadaaan Patric juga aku tutupi kepada keluargaku di Medan. Akan terlalu sakit bagi Bapa dan Nande mendengar nasib anak mereka. Aku hanya menceritakan bahwa Patric menemukan yang lain dariku, dan memang benar hanya saja sejenis dengannya. Tak lama setelah penandatanganan surat perceraian, Patric merubah namanya menjadi Patricia. Pukulan tambahan bagi anak-anakku. Kelak cucu-cucuku tidak akan pernah mengenal Opa mereka. Aku tak berani membayangkan apa yang akan dirasakan oleh anak-anakku. Hingga saat ini aku tidak bisa menemukan apa penyebab yang pasti semua ini. Tetapi satu hal kutanamkan pada anak-anakku agar mereka tidak menunggu terlalu lama jika mereka memiliki perasaan yang sama dengan Patric. Aku akan menerimanya dengan tangan terbuka, mereka anakku, buah cintaku, bagian darah dagingku, dan aku ingkinkan mereka bahagia. *************** “Mari kita pulang,” ajak Joke pelayan cafe pada pelanggan setianya ini, ketika untuk kesekian kalinya aku menyeka airmata. Rupanya waktu telah menunjukkan jam malam, walau sisa matahari di musim panas yang panjang masih mengiasi langit jingga. Dan aku telah berjam-jam mengkhayal. Selesai Amsterdam, Juni 2017 Note : nama dan tempat tidak ada hubungannya dengan cerita ini. Bagian 1 : Kenalan Pertama di Gramedia Gajah Mada Bagian 2 : Ciuman Pertama di Pinggir Danau Toba Bagian 3 : Getirnya Cinta Pertama Bagian 4 : Musim Semi Penuh Lara