Dari Obrolan Tentang Karo Dan Batak Ke Djarot Di
Panjang lebar dia bercerita dan ternyata dia seorang perempuan Batak, boru Sinaga.
"Menurut kakak, Karo dengan Batak itu sama?" Pertanyaan pertama yang saya ajukan kepadanya.
Berhubung acarapun dimulai, maka obrolan saya dengan perempuan Batak itu pun harus diakhiri.
Dalam hati saya menggumam, “memangnya orang Medan itu semua pakai merga atau beru ?
Singkat cerita, kita melompat ke cerita di pekan berikutnya.
Ketika lagi asyik ngobrol, seorang rekan kerja yang lain mencolek saya sambil berkata,
"Emangnya masalah kalau cewek ngomongin Pilkada atau politik?" jawab saya dengan pertanyaan.
“Emang orang Medan, ya? Kok pada ngomongin Djarot?" tanya Bapak tersebut.
“Iya, pak. Jawabku sembari sedikit tersenyum
"Saya Suku Karo," Jawabku datar.
Tiba-tiba Bapak tersebut pun mengucapkan mejuah-juah (sapaan khas Suku Karo) kepada saya.
“Beru kai kam ?" tanyanya. Membuatku sedikit gugup bercampur senang.
"Saya beru Karosekali," tegas, jawabku.
“Jadi, kam pendukung Cagub Djarot, ya?" lanjut tanyanya.
"Jelas donk, pak," jawabku tanpa sedikit pun ada keraguan,
“Pantesanlah, orang Karo pasti banyak dukung Djarot, karena PDIP," katanya sambil sedikit tertawa. Patung Soekarno dengan latar belakang pasanggerahan yang menjadi tempat pengasingannya di masa revolusi di Berastagi (Dataran Tinggi Karo)[/caption]
Lalu, katanya, dia juga asal Medan. Suka sama Djarot dan juga suka sama orang Karo.
Lanjutnya dengan bertanya, "Amburidi pernah dengar tidak?"
Tiba-tiba tanyanya, "Enggo kam man ? (Apakah kamu sudah makan?)
“Enggo (sudah), pak. jawabku sambil tersenyum.
“Lain kali kita ngobrol lagi beru Karo. Kata bapak yang ramah tersebut.
Sambungnya, lagi katanya: "Bujur melala. Meejuah juah ."
Lalu jawabku juga: "Mejuah juah pak.” Mengakhiri percakapan itu.