Kolom Acha Wahyudi: Tak Ada Jalan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Acha Wahyudi: Tak Ada Jalan

Kolom Acha Wahyudi: Tak Ada Jalan

Saat Hashim Djojohadikusumo membeli Bank Papan Sejahtera, yang sebelumnya sebagian sahamnya adalah milik Bank Indonesia, usiaku belum genap 20 tahun. Saat itu aku bekerja sebagai Junior Officer di Bank khusus pemberi pinjaman kredit kepemilikan rumah itu. Aku selalu merekam dengan baik apa yang terjadi di level Top Manajemen. Selain juga banyak baca tentang politik.

Saat beralihnya kepemilikan, para pejabat yang hampir seluruhnya pribumi, mendadak diganti.

Hampir seluruhnya di"replaced" oleh orang-orang Citibank yang dipimpin oleh Al Njoo Kok Kiong. Lihat dari namanya jelas kan berasal dari etnis apa? Berbanding terbalik kan dengan isu etnis yang mereka goreng saat ini, yang menggiring stigma bahwa:

Ahok Orang China, Jokowi Keturunan China, Orang China itu Jahat!

Padahal wong Chino asli sing jahat perampok uang rakyat Indonesia yoo mereka Kuwi!

Apalagi dari tulisan Iman Brotoseno, aku baru tahu, ternyata dana akuisisi Bank Papan Sejahtera berasal dari pinjaman Bank, dimana Titiek Soeharto sebagai penjaminnya. Padahal ini jelas melanggar ketentuan BI, yaitu tidak boleh mempergunakan dana pinjaman dari Bank untuk membiayai pembelian Bank. Tapi, yaa, di jaman itu kan ada quote: "Peraturan dibuat hanya untuk dilanggar!"

Opomeneh Gubernur BI 3 periode berturut-turut (Sudradjat Djiwandono) kan saudara Ipar Prabowo dan Hashim. Jadi, sangat mudah sekali mengatur kongkalikong seperti ini.

Tak lama sejak akuisisi tersebut, terjadilah krisis moneter. Lagi-lagi keluarga kemaruk tersebut mengakali dana talangan BLBI. Semua aset dan jaminan di mark-up dengan mudahnya. Juga memakai cara kongkalikong dengan instansi yang harusnya jadi pengawas Badan Keuangan yang ga berani melawan perintah anak-anak penguasa.

Kejadian ini hanyalah satu dari begitu banyak kejahatan kerah putih yang dilakukan pada Jaman Orde Baru.

Mau balik ke Jaman itu? Pikiiir seribu turunan, seribu tanjakan gaesss..!!